) ternyata terus merambat ke seluruh sendi kehidupan sosial. Konsep penanda-petanda ternyata sangat rapuh, karena ketidakstabilan makna yang dihadirkannya.Kita anggap saja begini, Pemerintah membuat pengumuman tentang kenaikan harga BBM. Dua kemungkinan bahasa yang akan digunakan adalah, "Harga BBM harus disesuaikan, subsidi tetap ada namun berkurang". Kemungkinan satunya adalah, "Pemerintah harus menaikkan harga minyak, subsidi akan dicabut." Kalimat kedua mengandung kemungkinan chaos yang lebih besar dari yang pertama. Kemungkinan chaos ini selalu muncul karena rawannya pemaknaan terhadap kalimat yang hampir mirip. Namun, lagi-lagi kita dijejali pertanyaan, makna yang mana?
Siapa yang berhak atas pemaknaan? Ada di tangan siapa monopoli pemaknaan itu? Lebih jauh lagi, sejauh mana bahasa mencerminkan realitas? Atau tidak pernah ada Realitas (dengan R besar) yang benar-benar dimunculkan oleh bahasa? Jangan-jangan, bahasa hanya mencerminkan seperempat, setengah, sepertiga atau bahkan sama sekali tidak mencerminkan realitas? Seperti yang dibilang Umberto Eco, Semiotika adalah ilmu tentang berbohong (Yasraf Amir Piliang, Hipersemiotika: Jalasutra).
Bahasa adalah silang sengkarut tanda. Foucault bilang, bahasa adalah relasi tanda yang tak pernah berkesudahan, senantiasa dibentuk oleh epistema zamannya. Karena itu, pemaknaannya bersifat arbitrer, yang terus menerus ditekan oleh kuasa pengetahuan yang sedang berlaku. Derrida bilang, tidak pernah ada yang berhak memberi pemaknaan tunggal atas bahasa atau teks. Deleuze bilang, skizofrenia adalah gejala putusnya hubungan rantai penanda dan petanda, hingga menimbulkan kesimpangsiuran makna (Yasraf Amir Piliang, Hipersemiotika: Jalasutra).
Kita terlalu banyak dijejali ketidakpercayaan. Terlalu banyak carut marut di sekitar kita. Yang mana yang bisa kita percayai. Ini pesimis, tapi beginilah keadaannya. Kita tentu tidak ingin orang lain memaksakan pada kita kehendak dan pemahaman mereka terhadap dunia ini, bukan?
Disinilah kemudian timbul kesinisan begawan-begawan posmo terhadap sistem tanda, dan relasi-relasi kuasa pengetahuan. Akibatnya, kita akan sering mendengar tentang, "Matinya Tanda", "Matinya Subjek", "Matinya Teks", dan berbagai kematian lain. Bagaimana modernitas menjelaskan ini? Apakah Habermas juga menyentuh wilayah relasi tanda dan pemaknaan ini?
Diskusinya akan berlanjut lagi, nanti atau besok
. Salam

Tidak ada komentar:
Posting Komentar