Musik Pop, topeng Kapital atau Watak Revolusioner yang tersembunyi?
Musik Pop, Bagaimana Keadaannya?
Membincang musik pop, yang ada dalam benak kita adalah musik yang enak didengar, mudah dicerna, dan target pasarnya adalah anak-anak muda. Lagu dan musiknya biasanya ada di bawah bendera major label, dan konsekuensinya adalah si penyanyi atau pencipta lagu harus terikat kontrak yang mereka buat dengan perusahaan rekaman. Karena itu, mereka harus bisa mencipta lagu dalam tempo yang sama-sama sudah disepakati sebelumnya.Karena itu, musik pop juga dapat dipahami berada di dalam lingkaran perputaran modal yang kuat, yang secara rutin memberi masukan pendapatan ke perusahaan rekaman.
Dari pola-pola diatas, nampak bahwa ada pembatasan kreatifitas dalam berseni. Penyanyi dituntut untuk mencipta lagu secepat-cepatnya, makin mellow makin bagus, tangga nadanya itu-itu saja tidak masalah, asal dapat diterima pasar, yang dalam hal ini terdiri dari anak-anak muda yang mudah sekali menerima apapun yang ada di luar diri mereka. Inilah yang oleh Adorno disebut 'budaya rendah' atau 'budaya massa' (Cultural Studies dan Kajian Budaya Pop : Jalasutra).
Musik bukan perkara identitas, musik bukan masalah bagaimana meng-aktualisasi diri, musik bukan tentang seni, tapi musik adalah manipulasi, musik adalah perputaran modal, musik adalah kapital yang bersembunyi di balik topeng Identitas bagi kalangan remaja. Musik pop mungkin tidak akan dapat disejajarkan dengan musik-musik 'budaya tinggi', seperti Mozart, Beethoven, atau yang lain, yang partitur nadanya sulit ditebak. Nada yang benar-benar sedang mencerminkan keadaan hati si pengarang, bukan semata-mata tuntutan pasar.
Dari pola-pola diatas, nampak bahwa ada pembatasan kreatifitas dalam berseni. Penyanyi dituntut untuk mencipta lagu secepat-cepatnya, makin mellow makin bagus, tangga nadanya itu-itu saja tidak masalah, asal dapat diterima pasar, yang dalam hal ini terdiri dari anak-anak muda yang mudah sekali menerima apapun yang ada di luar diri mereka. Inilah yang oleh Adorno disebut 'budaya rendah' atau 'budaya massa' (Cultural Studies dan Kajian Budaya Pop : Jalasutra).
Musik bukan perkara identitas, musik bukan masalah bagaimana meng-aktualisasi diri, musik bukan tentang seni, tapi musik adalah manipulasi, musik adalah perputaran modal, musik adalah kapital yang bersembunyi di balik topeng Identitas bagi kalangan remaja. Musik pop mungkin tidak akan dapat disejajarkan dengan musik-musik 'budaya tinggi', seperti Mozart, Beethoven, atau yang lain, yang partitur nadanya sulit ditebak. Nada yang benar-benar sedang mencerminkan keadaan hati si pengarang, bukan semata-mata tuntutan pasar.
Yang Minor
Untung, masih ada beberapa pemusik yang coba sedikit keluar dari mainstream macam begini. Sebut saja beberapa di antaranya : Radiohead, Muse, dan Pearl Jam. Radiohead, setelah menggarap lagu buat Soundtrack sebuah film (maaf sekali, saya lupa film apa, padahal baru tadi siang diobrolin sama temen-temen), tidak menginginkan lagunya tersebut dikemas dalam satu album yang utuh. Jadi, mereka ciptakan cuma satu lagu, khusus buat soundtrack film tadi. Seolah-olah mereka pengen kembali lagi ke Indie Label, padahal mereka sudah masuk ke Major Label.
Yang kedua, penerus silsilahnya Radiohead, adalah Muse. Musik yang dimainkan Muse, terasa penuh distorsi (mirip-mirip Radiohead juga sih), akan membuat risih dan sakit kuping yang tidak terbiasa, dan tidak ingin keluar dari mainstream. Tapi, begitulah cara mereka bermusik. Arti lirik lagunya pun tidak mudah ditebak.
Simak saja Hysteria-nya Muse :
It's bugging me
Calling me
And twisting me around
Yeah I'm endlessly
Caving in
And turning inside out
'cause I want you now
I want it now
Give me your heart and your soul
And I'm breaking out
I'm breaking out
That's when she'll lose control
Yeah it's hurting me
Morphing me
And forcing me to strive
To be endlessly
Caving in
And dreaming of my love
Because I want it now
I want it now
Give me your heart and your soul
I'm not breaking down
I'm breaking out
That's when she'll lose control
And I want you now
I want you now
I feel my heart implode
And I'm breaking out
Escaping now
Feeling my faith grow old
Dapat kesan ini adalah lagu cinta? Mungkin saja, tapi nyatanya ini adalah lagu tentang Krisis di Timur Tengah yang tidak kunjung usai.
Atau sepenggal lirik dari Knights of Cydonia :
How can we win,
when the fools can be King?
Jadi, tidak ada halangan, meskipun berada di dalam putaran modal, kreatifitas tetap terjaga, dan ini bukan musik yang egois.
Watak Budaya yang Revolusioner
Kebudayaan yang ada dalam masyarakat ternyata memiliki watak-watak revolusionernya sendiri. Kecenderungan revolusioner ini terus bergerak mematangkan dirinya sendiri, hingga pada satu titik yang sudah matang, pecahlah revolusi. Memang bukan Revolusi kapital seperti yang diinginkan Marx. Karena revolusi macam ini hanya tersedia bagi negara atau wilayah yang pondasi ekonominya benar-benar murni kapital. Indonesia sejak awal sudah menetapkan ekonominya adalah Ekonomi Pancasila yang notabene adalah sistem ekonomi campuran. Sosialis pada tataran Ideal, namun Kapital pada tataran Praktis. Akibatnya, revolusi tidak akan pernah matang di Indonesia.
Watak Revolusioner yang terkandung dalam kebudayaan adalah watak perlawanan terhadap kemapanan, yang memiliki kecenderungan penghisapan. Dan bila dirunut, ia memiliki benang merah, ketidakterputusan terhadap sejarah. Sebut saja tari Tayub atau Reog Ponorogo. Atau tari-tarian Perang dimanapun itu, Papua, Dayak, ataupun Bugis, adalah tarian yang mengandung semangat perlawanan. Tidak ada keterputusan sejarah di dalamnya. Sampai sekarang pun, kita akan selalu menemukan budaya dan kearifan lokal ini masih dalam bentuk dan semangat yang sama.
Kembali pada musik. Musiknya Kangen Band atau Radja, yang katanya 'musik marjinal' itu ternyata memiliki keterikatan sejarah yang kuat terhadap kearifan-kearifan lokal tersebut. Musik yang dimainkan Kangen Band sarat dengan cengkok Melayu, yang bisa dibilang kembali dikenalkan ke masyarakat luas oleh Iyeth Bustami lewat lagunya, "Laksamana Raja di Laut". Iyeth mengasumsikan laki-laki gagah yang diidamkan setiap wanita bukan laki-laki yang berpenghasilan jutaan atau bahkan milyaran rupiah. Laki-laki idamannya adalah laki-laki gagah bak sang Laksamana yang mampu menaklukkan lautan. Musik yang dimainkan Kangen Band, memiliki karakter yang sama dengan yang dibawakan Iyeth Bustami tadi.
Tapi, lagi-lagi ada sekelompok kalangan (taulah, Pemerintah) yang kontra-revolusioner mencoba memotong jalannya arus perlawanan budaya tadi. Salah satu jalan yang ditempuh adalah pelarangan beredarnya VCD Bajakan. Kalau mau jujur, justru peredaran VCD Bajakan inilah cita-cita revolusi. Semua orang berhak atas hiburan yang sama. Siapa saja bisa mendapatkannya. Orang kampung pun bisa menikmati musik jazz yang katanya musik berkelas itu.
EPILOG
Alih-alih membicarakan revolusi yang berbelit-belit, mencari jawaban atas teka-teki Supersemar yang tak jelas ujung pangkalnya, lebih baik kita menengok sejenak ke emperan-emperan toko, mencerna setiap detik denyut nadi yang berdetak di dalam nurani bangsa kita sendiri. Menghayati tiupan-tiupan napas perlawanan yang terkandung di dalamnya. Sebelum kita sendiri menjadi elitis dan reaksioner.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar