Minggu, 01 Februari 2009

Praxis...? Please deh...!!!

Satu ciri yang khas dan paling menonjol dari seorang aktivis gerakan adalah gayanya yang arogan. Kalo cuma gaya sih mungkin gak masalah, tapi kalo sudah memaksa orang untuk berpikir dan berperilaku dengan cara dia, ini baru jadi bermasalah.

Eit, tenang saja. Ini 'cuma' curhat kok. Setelah sekian lama bergaul dengan 'kawan-kawan' (kata ini jadi sangat absurd belakangan ini) gerakan, ada perasaan yang lambat laun mulai terakumulasi jadi kejengkelan. Bagaimana tidak? Para aktivis selalu bertingkah dan berpikir seolah-olah dunia ini tidak akan jadi lebih baik tanpa mereka, artinya hanya mereka yang bisa membebaskan 'proletar', 'marhaen', 'kaum miskin kota', atau apapun lah itu.

Dan yang paling menjengkelkan adalah, ketika seseorang tidak mengikuti pola hidup, tradisi, maupun kebiasaan mereka, stigma-stigma miring langsung dilekatkan pada orang tersebut.

Berikut ini daftar stigma yang akan dilekatkan pada kita, kalau kita gandrung pada pemikiran-pemikiran yang menurut mereka 'tidak berkaca pada realitas' :
1. Aneh
2. Apatis
3. Egois
4. Kontra-revolusioner
5. Trotskyist
6. Tidak cinta tanah air
7. Gila
8. Pikirannya tidak bisa dijangkau
9. Tidak Rasional
10. Tidak bisa berbuat apa-apa untuk rakyat

Tapi, aneh lagi (memang, organisasi ekstra kampus adalah kumpulan 'keanehan'), stigma ini hanya dilekatkan pada 'mereka' yang senang membaca buku, senang belajar, senang bertanya, senang menulis, dan lain-lain. Mereka tidak akan melekatkan stigma-stigma ini pada mahasiswa yang suka main bola di kampus, yang suka main PS, yang suka bilyard, yang suka dugem, atau bahkan pada yang libido politiknya tidak pernah bisa terpuaskan (yah, politik kampus kan 'politik' juga toh?!)

Kalo gini sih, seharusnya slogan Reformasi '98 bukan cuma 'TURUNKAN SOEHARTO' saja. Tapi (alangkah lebih baik) kalau dirubah jadi, 'TURUNKAN SOEHARTO DAN BIARKAN GOLONGAN KAMI SAJA YANG BERKUASA!!!'

Ah, come on, comerad, filsafat hanya soal hobi, sama seperti sepakbola, PS, bilyard, dugem, dan lain sebagainya. Kalau begini caranya, ini bukan hegemoni, ini dominasi!!! Sesuatu yang sangat kalian benci, bukan??!!

Salam

Si Gila

Pernahkah kau mendengar tentang si gila yang menyalakan lentera di pagi cerah,

berlarian ke pasar sambil berteriak tiada henti,

"kucari Tuhan! Aku mencari Tuhan...!!!"

ketika banyak orang tidak percaya pada Tuhan datang mengerumuninya, orang gila itu menjadi tertawaan,

"Apakah dia ini orang hilang?" kata yang lain,

"Ataukah ia sembunyi?Apa ia ketakutan pada kami?Ataukah ia mengadakan pelayaran?Atau bermigrasi?"

Demikian mereka berteriak dan tertawa,

Si gila melompat ke tengah mereka lantas menatap tajam wajah mereka,
"Kemana Tuhan pergi?" teriaknya,

Aku mau katakan pada kalian. KITA SUDAH BUNUH DIA- KAU DAN AKU. KITA SEMUA PEMBUNUHNYA.

Memoar Patah Hati

BRENGSEK!!!
Hanya itu yang terlintas di kepalaku,
di malam jahanam itu,
saat semua luka yang belum kering, kau tikam lagi dengan pisau yang berkarat.....

Rasanya aku mengenal karat itu,
karat yang perlahan-lahan tercipta dari air surga yang selalu kau dambakan,
namun neraka bagiku......

Surga katamu,
karena tubuh adalah bait Allah,
namun bagiku itu hanya kata-kata pemanis mulut,
yang tercipta di atas sistem keyakinan yang dengan hormat kita sebut agama.......


KEPARAT!!!
Yang terlintas di hatiku,
saat pagi harinya aku harus membiasakan diri untuk tidak menyapamu,
terbayang malam malam kosong yang terlewatkan dengan sia-sia saja.....

Tempat-tempat yang pernah akrab,
bau bau tubuh yang intim,
bau pengap udara,
aroma tanah sehabis hujan,
yang dengan basa-basimu kau katakan, kau suka semua itu......

Salah satu dari kita tak pernah mau beranjak,
tak pernah mau mencoba mendengarkan yang lain,
kalau salah satu dari kita jadi penguasa,
tentu ia akan lebih kejam dari Hitler, Mussolini, Tsar Nicholas, maupun King Louis.....

Untung takdir memotongnya disini,
dengan pisau yang juga berkarat...........

Manifesto Ketuaan

Apa rasanya menua Mbah ?
cucumu ingin tahu
Jarak membuatmu letih, sepertinya,
mentari tanggalkan jejak
pada kulit
kisut, entah berapa kali

Sementara tanah kelahiran masih basah
ketika senja merintih rintik
menyisakan pucuk kematian

Seperti apa rasanya menua mbah ?
getir, sepi, rapuh, sendiri… ?
cucumu belum tahu

...............................................

Apa lagi yang kita cari
ketika pagi datang lagi entah untuk jam ke berapa
tak pernah pasti barangkali

Atau sebatas halusinasi,
Kenangan yang seketika. Deras menggema
dari layar televisi

Yang penuh manifesto, Peng- AtasNama -an dari segala, yang
tak perlu kita cari
tak usah kita nanti.

Karena senantiasa, ruap aroma debu perjalanan, dalam lebat
hujan senja kali ini

Senja yang itu-itu juga

Selalu gaib,

Kesekian
Waktu berdenyut

Entah pada detik keberapa

Berawal dari Sepi

Sebab segala yang bermula dari sepi
barangkali hanya rindu yang nisbi
dan anehnya, kita seringkali tertipu
menduga
andai saja
ini kali, dongeng cinta kekal. Lalu

Semua terjadi seketika begitu saja
manakala purnama pasang, gerimis surut
serta serpih hati masih asing, berdenting
dari lapis tanah yang menamainya keyakinan

Dalam gumam hati bermukim
larik-larik fasih yang seperti ini bunyinya :
“ ia, lelaki dari masa laluku. Kerap berkelebat dalam
lelap jua langkah kecilku. Sepertinya,
aku masih mencintainya. Namun……”

Sebab segala yang lari dari mesti
bisa jadi semacam jejak pelampiasan
yang lucunya acapkali membuat kita
menyeringai
semisalpun
entah kapan, didera letih lagi pedih

“ mari sini, biar kulumuri lidahmu
dengan coklat dari luka kakiku
yang penuh kerikil-kerikil sentimentil “,
sengal nafasmu sisakan aroma langit
yang pucat, jauh jatuh menetes
di kelok jalan

semua itu, kata orang, terlintas saat musim cinta tengah bergegas
tapi Tuhan belum tuntas
meniup kesejukan
dan bahkan jemari kita belum sempat bersentuhan

Bangkitnya Kesadaran

Kegelapan ada tepat diatas dahi
taring hyena menyeringai tubuh
mencabik daging dan mengecap darah
ia tidak mati..
berjalan terhuyung ditepian sungai
suaranya tak bergetar
berusaha memalingkan diri dari terjangan pemangsa..
untuk beberapa saat terjatuh
kemudian berdiri dengan memeluk batang pohon..
kemudian menegaskan pada diri
bahwa selalu ada risiko berkonspirasi..
pulanglah ia kerumahnya dan mengambil sebuah topeng serigala sekaligus jiwanya..
kemudian mengganti hasratnya dengan cakar singa..
menarik diri masuk kedalam permainan seni terbaik di dunia..
kematian dan kekuasaan