Sebutir embun tergelincir diteras rumah. Terpapah oleh dahan dan ranting pepohonan yang mulai meranggas. Musim kemarau ini, menjadikan udara terasa sangat kering, membuat rongga nafas tersendak debu yang kian hari kian mengerak. Rumput-rumput tak lagi menghijau, meremukkan tubuhnya agar tak mati disuatu hari. Sementara burung-burung terpaku kumal dengan bulu-bulu yang lusuh. Kicau mereka terdengar begitu parau tertahan.
Sebuah meja makan ditengah ruangan terlihat sepi. Tak ada lagi riuh rendah suara anak-anak yang bercanda sambil berkejaran berebut makanan. Senyum manis yang biasanya melekat disisa-sisa ingatan, kini mulai lapuk terbawa angina musim yang terus berubah.
Ini adalah pagi yang gersang. Tak nampak lagi kepulan asap berkelok dari cangkir kopi panas diteras rumah karena tertimpa sinar matahari. Apalagi senyum seorang gadis cantik yang selalu menyuguhkan keluguan kasihnya dimeja-meja pengharapan. Hanya gurat kenangan yang sesekali masih terlihat membekas didinding-dinding rumah yang mulai retak. Terbebani oleh kesaksian yang mungkin terlalu menyakitkan. Hingga tembok-tembok retak itu berusaha tetap berdiri, meski diam, dan membisu batu.
Berlanjut.......
Kabarnya
Marhaenku terlanjur mati.................
Dan aku belum juga mampu berdiri...............
Untuk kawan-kawan yang selalu berdiri di ujung waktu
Minggu, 01 Februari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar