Tulisan ini berusaha membedah dan mempertanyakan lagi makna cinta yang selama ini dianggap mapan dan berada nun jauh disana, hingga tak dapat terjelaskan dengan kata-kata. Kebanyakan orang jika ditanya, 'Anda percaya cinta?', jawabannya hampir pasti adalah, 'Ya, saya percaya cinta'. Jika pertanyaannya dilanjutkan, 'Bagaimana bentuknya?', yang ditanya akan bingung atau mungkin tersipu malu, 'Entahlah, dia tak dapat dijelaskan, hanya dapat dirasakan ketika ia hadir.' Waw, seketika kita akan terpana, sedahsyat itukah cinta hingga tak dapat dijelaskan? Benarkah ia memang benar-benar 'rasa' yang tak dapat dijelaskan, atau ia memang dibiarkan berada dalam keabstrakannya, sebagaimana keyakinan kaum Agnostik ketika diajak berbicara tentang Tuhan.
Tanpa sadar, sebenarnya kita sedang dan terus menerus membangun konstruksi yang ideal tentang cinta. Dia dipaksakan muncul sebagai sebentuk 'rasa' yang tak terjelaskan, namun karena kita membutuhkan pengakuan atas keberadaan kita sebagai makhluk yang ingin mencintai dan dicintai, akhirnya kita menerjemahkan cinta ke dalam sebentuk hubungan (orang biasa menyebutnya pacaran atau pernikahan). Dan lebih jauh lagi, kita dapat saja bertanya, 'Benarkah orang-orang yang berpacaran benar-benar didasarkan atas cinta dari kedua belah pihak, tanpa ada motif lain apapun di baliknya?"
Cinta yang selama ini dipahami sebagai bentuk cinta yang ideal adalah cinta yang tulus memberi, tanpa pernah mengharapkan balasan apapun. Dari salah satu sumber yang saya baca, tradisi ini berasal dari tradisi Kristiani Barat. Tuhan Allah mengirimkan anak-Nya yang tunggal ke atas dunia untuk menebus dosa umat manusia. Ia rela dikorbankan untuk menebus dosa-dosa tersebut, kendatipun tidak ada jaminan bahwa anak-anak manusia ini akan beriman kepada-Nya. Konstruksi ideal ini terus menerus dibangun, sehingga orang yang bercinta akan memiliki kadar cinta yang kurang sempurna jika mengharapkan balasan. Konstruksi ideal inilah yang akhirnya memberikan konsep-konsep turunan tentang bagaimana cara mencintai dan dicintai.
Cinta, yang sering sekali dibawa dan diterjemahkan ke dalam lagu-lagu cinta khas remaja yang berakhir tragis, dan di sisi lain ke dalam novel-novel remaja yang (anehnya) justru kerapkali berakhir bahagia, kemudian digiring untuk diturunkan ke dalam hubungan-hubungan pacaran, pernikahan dan sebagainya. Kita sering mendengar ungkapan (entahlah, mungkin saja ini cuma basa-basi), 'Kau menarik sekali, mungkin aku jatuh cinta padamu. Tapi akan lebih baik lagi kalau kau sedikit merubah penampilanmu, (atau) sedikit merubah sifat dan kepribadianmu'. Begitu juga, inilah ungkapan seorang pencinta (kendatipun, mungkin tidak akan diucapkan, hanya ada di dalam hati saja). 'Aku cinta padamu, aku rela melakukan apapun untukmu. Tapi awas! Kalau kau mengecewakanku, aku bisa nekat dan membuat hidupmu gelisah dan tidak nyaman.' Absurd! Bagian pertama kalimat nampak sekali bertentangan secara frontal dengan bagian kedua kalimat. Ini semacam benturan antara konstruksi sosial yang memaksa kita membangun konsepsi ideal tentang cinta dengan kebutuhan kita sebagai makhluk yang ingin diakui.
Mengutip Derrida, cinta adalah semacam 'metafisika kehadiran'. Ia adalah simbolisasi metafisika yang dipaksa hadir dalam diskursus masyarakat modern. Penanda tentang cinta dipaksakan sama kepada tiap individu, dan pada gilirannya ia mengeliminasi penanda-penanda lain tentang cinta. Ia adalah absurditas yang di-ontologi-sasi menjadi sebentuk ideal-final. Pertanyaannya mudah saja, kita turunkan pertanyaannya menjadi, 'Apa yang kita cari dari sebuah hubungan?'. Saya sepakat bahwa jawabannya adalah kenyamanan. Itu saja!
Sebuah hubungan (kalau anda termasuk yang sepakat bahwa cinta dapat diterjemahkan ke dalam sebentuk hubungan antar kekasih), sebenarnya sudah dapat berjalan dengan baik bila ada ketulusan, loyalitas, dan kejujuran (mungkin ada faktor lain, tapi tiga itulah yang saya kira paling utama). Jadi, kita tidak perlu menganggap cinta sebagai sesuatu yang ada diatas dan menekan kita. Ia justru hadir di tengah-tengah kita, menjadikan kita makhluk yang sadar dan tercerahkan.
EPILOG
Kalau anda sedang mencintai seseorang, atau ada yang bertanya pada anda, 'Apa kamu mencintaiku?'. Jawab saja,'Aku mencintaimu dengan segala yang ada pada dirimu.' Habis perkara.
Minggu, 01 Februari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar