Minggu, 01 Februari 2009

Berawal dari Sepi

Sebab segala yang bermula dari sepi
barangkali hanya rindu yang nisbi
dan anehnya, kita seringkali tertipu
menduga
andai saja
ini kali, dongeng cinta kekal. Lalu

Semua terjadi seketika begitu saja
manakala purnama pasang, gerimis surut
serta serpih hati masih asing, berdenting
dari lapis tanah yang menamainya keyakinan

Dalam gumam hati bermukim
larik-larik fasih yang seperti ini bunyinya :
“ ia, lelaki dari masa laluku. Kerap berkelebat dalam
lelap jua langkah kecilku. Sepertinya,
aku masih mencintainya. Namun……”

Sebab segala yang lari dari mesti
bisa jadi semacam jejak pelampiasan
yang lucunya acapkali membuat kita
menyeringai
semisalpun
entah kapan, didera letih lagi pedih

“ mari sini, biar kulumuri lidahmu
dengan coklat dari luka kakiku
yang penuh kerikil-kerikil sentimentil “,
sengal nafasmu sisakan aroma langit
yang pucat, jauh jatuh menetes
di kelok jalan

semua itu, kata orang, terlintas saat musim cinta tengah bergegas
tapi Tuhan belum tuntas
meniup kesejukan
dan bahkan jemari kita belum sempat bersentuhan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar