Satu ciri yang khas dan paling menonjol dari seorang aktivis gerakan adalah gayanya yang arogan. Kalo cuma gaya sih mungkin gak masalah, tapi kalo sudah memaksa orang untuk berpikir dan berperilaku dengan cara dia, ini baru jadi bermasalah.
Eit, tenang saja. Ini 'cuma' curhat kok. Setelah sekian lama bergaul dengan 'kawan-kawan' (kata ini jadi sangat absurd belakangan ini) gerakan, ada perasaan yang lambat laun mulai terakumulasi jadi kejengkelan. Bagaimana tidak? Para aktivis selalu bertingkah dan berpikir seolah-olah dunia ini tidak akan jadi lebih baik tanpa mereka, artinya hanya mereka yang bisa membebaskan 'proletar', 'marhaen', 'kaum miskin kota', atau apapun lah itu.
Dan yang paling menjengkelkan adalah, ketika seseorang tidak mengikuti pola hidup, tradisi, maupun kebiasaan mereka, stigma-stigma miring langsung dilekatkan pada orang tersebut.
Berikut ini daftar stigma yang akan dilekatkan pada kita, kalau kita gandrung pada pemikiran-pemikiran yang menurut mereka 'tidak berkaca pada realitas' :
1. Aneh
2. Apatis
3. Egois
4. Kontra-revolusioner
5. Trotskyist
6. Tidak cinta tanah air
7. Gila
8. Pikirannya tidak bisa dijangkau
9. Tidak Rasional
10. Tidak bisa berbuat apa-apa untuk rakyat
Tapi, aneh lagi (memang, organisasi ekstra kampus adalah kumpulan 'keanehan'), stigma ini hanya dilekatkan pada 'mereka' yang senang membaca buku, senang belajar, senang bertanya, senang menulis, dan lain-lain. Mereka tidak akan melekatkan stigma-stigma ini pada mahasiswa yang suka main bola di kampus, yang suka main PS, yang suka bilyard, yang suka dugem, atau bahkan pada yang libido politiknya tidak pernah bisa terpuaskan (yah, politik kampus kan 'politik' juga toh?!)
Kalo gini sih, seharusnya slogan Reformasi '98 bukan cuma 'TURUNKAN SOEHARTO' saja. Tapi (alangkah lebih baik) kalau dirubah jadi, 'TURUNKAN SOEHARTO DAN BIARKAN GOLONGAN KAMI SAJA YANG BERKUASA!!!'
Ah, come on, comerad, filsafat hanya soal hobi, sama seperti sepakbola, PS, bilyard, dugem, dan lain sebagainya. Kalau begini caranya, ini bukan hegemoni, ini dominasi!!! Sesuatu yang sangat kalian benci, bukan??!!
Salam
Minggu, 01 Februari 2009
Si Gila
Pernahkah kau mendengar tentang si gila yang menyalakan lentera di pagi cerah,
berlarian ke pasar sambil berteriak tiada henti,
"kucari Tuhan! Aku mencari Tuhan...!!!"
ketika banyak orang tidak percaya pada Tuhan datang mengerumuninya, orang gila itu menjadi tertawaan,
"Apakah dia ini orang hilang?" kata yang lain,
"Ataukah ia sembunyi?Apa ia ketakutan pada kami?Ataukah ia mengadakan pelayaran?Atau bermigrasi?"
Demikian mereka berteriak dan tertawa,
Si gila melompat ke tengah mereka lantas menatap tajam wajah mereka,
"Kemana Tuhan pergi?" teriaknya,
Aku mau katakan pada kalian. KITA SUDAH BUNUH DIA- KAU DAN AKU. KITA SEMUA PEMBUNUHNYA.
berlarian ke pasar sambil berteriak tiada henti,
"kucari Tuhan! Aku mencari Tuhan...!!!"
ketika banyak orang tidak percaya pada Tuhan datang mengerumuninya, orang gila itu menjadi tertawaan,
"Apakah dia ini orang hilang?" kata yang lain,
"Ataukah ia sembunyi?Apa ia ketakutan pada kami?Ataukah ia mengadakan pelayaran?Atau bermigrasi?"
Demikian mereka berteriak dan tertawa,
Si gila melompat ke tengah mereka lantas menatap tajam wajah mereka,
"Kemana Tuhan pergi?" teriaknya,
Aku mau katakan pada kalian. KITA SUDAH BUNUH DIA- KAU DAN AKU. KITA SEMUA PEMBUNUHNYA.
Memoar Patah Hati
BRENGSEK!!!
Hanya itu yang terlintas di kepalaku,
di malam jahanam itu,
saat semua luka yang belum kering, kau tikam lagi dengan pisau yang berkarat.....
Rasanya aku mengenal karat itu,
karat yang perlahan-lahan tercipta dari air surga yang selalu kau dambakan,
namun neraka bagiku......
Surga katamu,
karena tubuh adalah bait Allah,
namun bagiku itu hanya kata-kata pemanis mulut,
yang tercipta di atas sistem keyakinan yang dengan hormat kita sebut agama.......
KEPARAT!!!
Yang terlintas di hatiku,
saat pagi harinya aku harus membiasakan diri untuk tidak menyapamu,
terbayang malam malam kosong yang terlewatkan dengan sia-sia saja.....
Tempat-tempat yang pernah akrab,
bau bau tubuh yang intim,
bau pengap udara,
aroma tanah sehabis hujan,
yang dengan basa-basimu kau katakan, kau suka semua itu......
Salah satu dari kita tak pernah mau beranjak,
tak pernah mau mencoba mendengarkan yang lain,
kalau salah satu dari kita jadi penguasa,
tentu ia akan lebih kejam dari Hitler, Mussolini, Tsar Nicholas, maupun King Louis.....
Untung takdir memotongnya disini,
dengan pisau yang juga berkarat...........
Hanya itu yang terlintas di kepalaku,
di malam jahanam itu,
saat semua luka yang belum kering, kau tikam lagi dengan pisau yang berkarat.....
Rasanya aku mengenal karat itu,
karat yang perlahan-lahan tercipta dari air surga yang selalu kau dambakan,
namun neraka bagiku......
Surga katamu,
karena tubuh adalah bait Allah,
namun bagiku itu hanya kata-kata pemanis mulut,
yang tercipta di atas sistem keyakinan yang dengan hormat kita sebut agama.......
KEPARAT!!!
Yang terlintas di hatiku,
saat pagi harinya aku harus membiasakan diri untuk tidak menyapamu,
terbayang malam malam kosong yang terlewatkan dengan sia-sia saja.....
Tempat-tempat yang pernah akrab,
bau bau tubuh yang intim,
bau pengap udara,
aroma tanah sehabis hujan,
yang dengan basa-basimu kau katakan, kau suka semua itu......
Salah satu dari kita tak pernah mau beranjak,
tak pernah mau mencoba mendengarkan yang lain,
kalau salah satu dari kita jadi penguasa,
tentu ia akan lebih kejam dari Hitler, Mussolini, Tsar Nicholas, maupun King Louis.....
Untung takdir memotongnya disini,
dengan pisau yang juga berkarat...........
Manifesto Ketuaan
Apa rasanya menua Mbah ?
cucumu ingin tahu
Jarak membuatmu letih, sepertinya,
mentari tanggalkan jejak
pada kulit
kisut, entah berapa kali
Sementara tanah kelahiran masih basah
ketika senja merintih rintik
menyisakan pucuk kematian
Seperti apa rasanya menua mbah ?
getir, sepi, rapuh, sendiri… ?
cucumu belum tahu
cucumu ingin tahu
Jarak membuatmu letih, sepertinya,
mentari tanggalkan jejak
pada kulit
kisut, entah berapa kali
Sementara tanah kelahiran masih basah
ketika senja merintih rintik
menyisakan pucuk kematian
Seperti apa rasanya menua mbah ?
getir, sepi, rapuh, sendiri… ?
cucumu belum tahu
...............................................
Apa lagi yang kita cari
ketika pagi datang lagi entah untuk jam ke berapa
tak pernah pasti barangkali
Atau sebatas halusinasi,
Kenangan yang seketika. Deras menggema
dari layar televisi
Yang penuh manifesto, Peng- AtasNama -an dari segala, yang
tak perlu kita cari
tak usah kita nanti.
Karena senantiasa, ruap aroma debu perjalanan, dalam lebat
hujan senja kali ini
Senja yang itu-itu juga
Selalu gaib,
Kesekian
Waktu berdenyut
Entah pada detik keberapa
ketika pagi datang lagi entah untuk jam ke berapa
tak pernah pasti barangkali
Atau sebatas halusinasi,
Kenangan yang seketika. Deras menggema
dari layar televisi
Yang penuh manifesto, Peng- AtasNama -an dari segala, yang
tak perlu kita cari
tak usah kita nanti.
Karena senantiasa, ruap aroma debu perjalanan, dalam lebat
hujan senja kali ini
Senja yang itu-itu juga
Selalu gaib,
Kesekian
Waktu berdenyut
Entah pada detik keberapa
Berawal dari Sepi
Sebab segala yang bermula dari sepi
barangkali hanya rindu yang nisbi
dan anehnya, kita seringkali tertipu
menduga
andai saja
ini kali, dongeng cinta kekal. Lalu
Semua terjadi seketika begitu saja
manakala purnama pasang, gerimis surut
serta serpih hati masih asing, berdenting
dari lapis tanah yang menamainya keyakinan
Dalam gumam hati bermukim
larik-larik fasih yang seperti ini bunyinya :
“ ia, lelaki dari masa laluku. Kerap berkelebat dalam
lelap jua langkah kecilku. Sepertinya,
aku masih mencintainya. Namun……”
Sebab segala yang lari dari mesti
bisa jadi semacam jejak pelampiasan
yang lucunya acapkali membuat kita
menyeringai
semisalpun
entah kapan, didera letih lagi pedih
“ mari sini, biar kulumuri lidahmu
dengan coklat dari luka kakiku
yang penuh kerikil-kerikil sentimentil “,
sengal nafasmu sisakan aroma langit
yang pucat, jauh jatuh menetes
di kelok jalan
semua itu, kata orang, terlintas saat musim cinta tengah bergegas
tapi Tuhan belum tuntas
meniup kesejukan
dan bahkan jemari kita belum sempat bersentuhan
barangkali hanya rindu yang nisbi
dan anehnya, kita seringkali tertipu
menduga
andai saja
ini kali, dongeng cinta kekal. Lalu
Semua terjadi seketika begitu saja
manakala purnama pasang, gerimis surut
serta serpih hati masih asing, berdenting
dari lapis tanah yang menamainya keyakinan
Dalam gumam hati bermukim
larik-larik fasih yang seperti ini bunyinya :
“ ia, lelaki dari masa laluku. Kerap berkelebat dalam
lelap jua langkah kecilku. Sepertinya,
aku masih mencintainya. Namun……”
Sebab segala yang lari dari mesti
bisa jadi semacam jejak pelampiasan
yang lucunya acapkali membuat kita
menyeringai
semisalpun
entah kapan, didera letih lagi pedih
“ mari sini, biar kulumuri lidahmu
dengan coklat dari luka kakiku
yang penuh kerikil-kerikil sentimentil “,
sengal nafasmu sisakan aroma langit
yang pucat, jauh jatuh menetes
di kelok jalan
semua itu, kata orang, terlintas saat musim cinta tengah bergegas
tapi Tuhan belum tuntas
meniup kesejukan
dan bahkan jemari kita belum sempat bersentuhan
Bangkitnya Kesadaran
Kegelapan ada tepat diatas dahi
taring hyena menyeringai tubuh
mencabik daging dan mengecap darah
ia tidak mati..
berjalan terhuyung ditepian sungai
suaranya tak bergetar
berusaha memalingkan diri dari terjangan pemangsa..
untuk beberapa saat terjatuh
kemudian berdiri dengan memeluk batang pohon..
kemudian menegaskan pada diri
bahwa selalu ada risiko berkonspirasi..
pulanglah ia kerumahnya dan mengambil sebuah topeng serigala sekaligus jiwanya..
kemudian mengganti hasratnya dengan cakar singa..
menarik diri masuk kedalam permainan seni terbaik di dunia..
kematian dan kekuasaan
taring hyena menyeringai tubuh
mencabik daging dan mengecap darah
ia tidak mati..
berjalan terhuyung ditepian sungai
suaranya tak bergetar
berusaha memalingkan diri dari terjangan pemangsa..
untuk beberapa saat terjatuh
kemudian berdiri dengan memeluk batang pohon..
kemudian menegaskan pada diri
bahwa selalu ada risiko berkonspirasi..
pulanglah ia kerumahnya dan mengambil sebuah topeng serigala sekaligus jiwanya..
kemudian mengganti hasratnya dengan cakar singa..
menarik diri masuk kedalam permainan seni terbaik di dunia..
kematian dan kekuasaan
Nalar Puitis
Sang Arogan Isidore Auguste Marie Francois Xavier Comte dalam pelukan Clothilde de Vaux...
datanglah padaku engkau sang lelaki
tidurlah dalam dekapan hangat diantara dadaku
berhentilah untuk mencoba mengikat masa depan
tapi dengarkanlah detak jantung ini
yang pada malam harinya dicabik oleh para serigala
darah yang terlanjur mengering sayangku
dari pertarungan itulah aku memberimu setetes anggur
hai sang lelaki mengapa kau datang padaku
tidakkah cukup apa yang sudah kuberikan padamu
kau biarkan istrimu mati dalam sepi
oh betapa sakitnya hatiku
melihatmu masih memeluk tubuh dinginnya
mendengar bisikanmu padanya
dan membaca pikiranmu yang kering
aku akan tinggal sejenak malam ini
menanggalkan helai kainku di tepi ranjang
merebahkan tubuh ini dan menunggumu memelukku
membiarkan cahaya lilin dengan pelannya meredup
agar kau lepas dari tinta dan kertasmu
agar kau tidak lagi sendirian
menangislah sayangku..menangislah
permainkanlah tubuhku cintaku
biarkan gairah itu menghembuskannya dengan leluasa
dan jangan sedikitpun kau ucapkan kata-kata
jadilah seperti pria lain yang telah meniduriku
membuatku tertawa riang ketika ia memainkan kelaminnya
lupakanlah waktu karena ia membuat kita menderita
lalu bangunlah keesokan paginya, dan biarkan aku pergi...
datanglah padaku engkau sang lelaki
tidurlah dalam dekapan hangat diantara dadaku
berhentilah untuk mencoba mengikat masa depan
tapi dengarkanlah detak jantung ini
yang pada malam harinya dicabik oleh para serigala
darah yang terlanjur mengering sayangku
dari pertarungan itulah aku memberimu setetes anggur
hai sang lelaki mengapa kau datang padaku
tidakkah cukup apa yang sudah kuberikan padamu
kau biarkan istrimu mati dalam sepi
oh betapa sakitnya hatiku
melihatmu masih memeluk tubuh dinginnya
mendengar bisikanmu padanya
dan membaca pikiranmu yang kering
aku akan tinggal sejenak malam ini
menanggalkan helai kainku di tepi ranjang
merebahkan tubuh ini dan menunggumu memelukku
membiarkan cahaya lilin dengan pelannya meredup
agar kau lepas dari tinta dan kertasmu
agar kau tidak lagi sendirian
menangislah sayangku..menangislah
permainkanlah tubuhku cintaku
biarkan gairah itu menghembuskannya dengan leluasa
dan jangan sedikitpun kau ucapkan kata-kata
jadilah seperti pria lain yang telah meniduriku
membuatku tertawa riang ketika ia memainkan kelaminnya
lupakanlah waktu karena ia membuat kita menderita
lalu bangunlah keesokan paginya, dan biarkan aku pergi...
Terima Kasih Iblis
Salam bagi bangkitnya kesadaran mau berpikir..
terima kasih iblis atas inspirasinya..
kuburlah tuhan dalam kantong celana masing-masing
buka matamu..
lihat ada malaikat yang terang benderang hingga membuat mata jadi buta..
kesampingkan moral karena tak memberi jawaban..
bukalah kesempatan pada linang air mata pelacur..
biarkan orang gila berteriak..
hingga manusia mencapai puncaknya..
puncaknya pada seni panggung dan kematian..
bercintalah dimanapun ingin hal itu terjadi
bercintalah seperti binatang..
karena kita tak memiliki perbedaan sedikitpun dengan binatang
terima kasih iblis atas inspirasinya..
kuburlah tuhan dalam kantong celana masing-masing
buka matamu..
lihat ada malaikat yang terang benderang hingga membuat mata jadi buta..
kesampingkan moral karena tak memberi jawaban..
bukalah kesempatan pada linang air mata pelacur..
biarkan orang gila berteriak..
hingga manusia mencapai puncaknya..
puncaknya pada seni panggung dan kematian..
bercintalah dimanapun ingin hal itu terjadi
bercintalah seperti binatang..
karena kita tak memiliki perbedaan sedikitpun dengan binatang
Kegenitan Intelektual
Aku ini hidup di negeri yang aneh. Tradisi Intelektualnya bahkan belum sampai ke tahap Rasionalisme, tapi orang-orangnya pada sok-sokan baca posmo-posmoan. Lha, akhirnya jadi genit, analisis bis DAMRI aja kudu pake posmo. Dosen juga gampang banget ngomong, 'sekarang kita memasuki era posmodernisme'
WADUH!!!

Sejak kapan posmo jadi babakan sejarah.....
Bapak Ibu Dosen, dan kawan-kawan yang terhormat, jangan sembarangan pake term po'o, aneh jadinya....!!!
WADUH!!!

Sejak kapan posmo jadi babakan sejarah.....
Bapak Ibu Dosen, dan kawan-kawan yang terhormat, jangan sembarangan pake term po'o, aneh jadinya....!!!
Perbincangan kala sore dengan Jose Luis Borges (1899-1986)
Tulisan ini adalah rekaman diskusi rutin yang kami lakukan tiap Jumat sore di lorong sebuah institusi yang bernama FISIP Universitas Airlangga, yang kian hari kian dipenuhi manekin-manekin berjalan yang bahkan tak pernah mempertanyakan makna keberadaan diri mereka sendiri..................ENJOY!!!
'Saya tidak punya muatan apa-apa. Saya bukanlah seorang pemikir ataupun moralis. Tapi hanya seorang sastrawan yang menyalin kebingungannya sendiri, dan berusaha memindahkan sistem kebingungan yang dengan hormat kita sebut filsafat ke dalam bentuk sastra' (J. Luis Borges)
Untuk kesekian kalinya aku mendapatkan kesempatan berbincang dengan Borges (1899-1986). Kali ini aku tidak sendiri, beberapa teman dengan kesukaan akan fisika, sastra, filsafat dan kedokteran ikut merayakan pesta kecil keajaiban tubuh. Tubuh yang benar-benar telah mengatasi waktu. Aku dan juga manusia-manusia lain mungkin saja adalah hasil dari suatu proses kebetulan. Tubuh yang terperangkap dalam perpustakan. Sebagai pembuka, teman dari kedokteran yang telah membedah tubuh untuk pertama kalinya bertanya tentang Tuhan. 'Tuhan ada di suatu huruf pada salah satu halaman buku diantara berjilid-jilid buku yang memenuhi rak koleksimu', jawab seorang kawan yang pustakawan. Selanjutnya tulisan ini kubuat dalam gaya dialog, yang aku kutip dari sekian banyak pembicaraan kami sore itu di lorong FISIP, sambil ditemani Teh Botol yang dibeli dari Cak Sur, tukang parkir Fakultas Farmasi. Meski ada kesamaan di antara kami, tapi siapapun layak untuk mendapatkan fakta layaknya koran dan transkrip penelitian, bukan hanya sebagai sistem kebingungan yang kucoba buat teratur.
MH : Bagaimana sampeyan memandang kehidupan?
Setiap manusia terjebak dalam tubuh diantara pengetahuan yang tak terbatas. Dimana ide hadir untuk mengungkapnya. Sistem filsafat yang berlimpah macamnya memiliki kesamaan yaitu karakter yang enigmatis. Semuanya menawarkan solusi dari permasalahan. Tapi yang lebih penting dari itu semua adalah menemukan permasalahannya. Orang-orang dari zamanmu memberlakukan kategorial yang ketat untuk pengetahuan. Filsafat yang sangat ambisius untuk membuat penjelasan yang sistematis, saya rayakan melalui puisi. Puisi menegaskan pada diri saya bahwa realitas hanyalah metafor yang sedang menyamar. Dalam hal ini, gagasan idealisme dari Barkeley cukup mempengaruhi saya.
MH : Berarti sampeyan percaya dengan Filsafat
Saya kehilangan penglihatan total ketika berumur 56 tahun. Tapi jika saya berpikir tentang masa lalu saya, karena hanya itu yang bisa saya lakukan dalam kesunyian. Aku tentu saja berpikir tentang teman-temanku dan juga cinta. Tapi paling banyak aku berpikir tentang buku-buku yang telah kubaca. Ingatanku penuh dengan kutipan-kutipan dari berbagai bahasa. Dan berbicara tentang filsafat bahwasanya kita tidak diperkaya dengan setiap solusi yang ditawarkan. Setiap solusi memberi saya keraguan, mereka sangat arbitrer, filsafat hanya memperlihatkan pada kita bahwa dunia lebih misterius daripada yang kita pikirkan. Yang ditawarkan filsafat sebenarnya bukanlah sebuah sistem. Seperti seseorang menyatakan hal yang konkrit dan transparan. Itu adalah kumpulan keraguan. Dan belajar tentang keragu-raguan ini adalah sebuah kesenangan.
IC : Sampeyan pernah bilang bahwa sampeyan menerima sekaligus menolak apapun yang kehidupan tawarkan tapi bukankah sampeyan punya kehendak dan mengkonstruksinya dalam setiap tindakan....
Saya tidak percaya dengan kehendak bebas. Dalam hal ini berarti saya tidak terkonstruksi olehnya. Sekarang, jika kamu yakin dengan kehendak bebas, kehendak bebas adalah semacam ilusi yang dibutuhkan. Tapi, dengan semangat menghormati masa laluku, saya menerima semuanya sebagai hal yang kondisional di atas sejarah dunia, atas seluruh proses kosmis yang mendahuluinya. Namun jika saat ini saya mengatakan bahwa saya tidak bebas, saya telah menyerahkan sepenuhnya. Ini dua tangan saya, saya bilang, saya bisa memilih tangan mana yang akan saya jatuhkan di meja, dan saat itu saya yakin, tapi sekarang setelah saya memilih menjatuhkan tangan kiri saya, bagaimana saya bisa menerima bahwa itu telah ditentukan dan membiarkan jatuhnya yang kanan akan menjadi sesuatu yang tidak mungkin.
Tapi berbicara tentang masa lalu sebagai hal yang kontras, kamu bisa berpikir bahwa jika aku berlaku buruk, saya tidak punya alasan untuk menyesalinya. Semuanya telah ditentukan. Mungkin kamu yang masih muda merasakan kehendak bebas sebagai sebuah kesenangan dan kemudahan, tapi bagi saya sangat sulit untuk mempercayainya.
LT : Lepas dari bahasan filsafat, meskipun sampeyan menyebut filsafat sebagai cabang dari sastra fantasi. Dalam klasifikasi sastra karya sampeyan ditempatkan dalam realisme magis, hal apa yang patut sampeyan katakan tentang itu?
Saya berterima kasih sekaligus membenci setiap orang yang mengkategorikan karya saya. Namun dalam hal ini saya masih mengingat tiap tema yang saya hadirkan seperti labirin dan cermin, gagasan labirin menggambarkan setiap kebingungan dan cermin membangkitkan 'Aku' yang lain. dan mungkin realisme magis yang coba menggabungkan faktor eksternal dan internal manusia dalam hal ini kenyataan fisik dan psikologis. Secara teknis, mungkin realisme magis mencoba menghadirkan seluruh aspek seperti pikiran, emosi, imajinasi, serta mitos-mitos budaya. Teks realisme magis mungkin dianggap sebagai sesuatu yang tidak nyata tapi hanya saja bagi saya setiap karya tidak pernah selesai dan anggapan bahwa itu telah selesai sebagai sesuatu yang menjengkelkan.
Akhir pembicaraan kami diakhiri dengan perbincangan tentang wanita dan cinta. Dan tak mungkin kutuliskan perasaan ketika aku mendengar kesunyiannya menanti di usia tua. Borges pergi dan dia meninggalkan sisa minuman yang kemudian kuminum. Dan matahari makin menjadi merah dan semakin ke Barat............
'Saya tidak punya muatan apa-apa. Saya bukanlah seorang pemikir ataupun moralis. Tapi hanya seorang sastrawan yang menyalin kebingungannya sendiri, dan berusaha memindahkan sistem kebingungan yang dengan hormat kita sebut filsafat ke dalam bentuk sastra' (J. Luis Borges)
Untuk kesekian kalinya aku mendapatkan kesempatan berbincang dengan Borges (1899-1986). Kali ini aku tidak sendiri, beberapa teman dengan kesukaan akan fisika, sastra, filsafat dan kedokteran ikut merayakan pesta kecil keajaiban tubuh. Tubuh yang benar-benar telah mengatasi waktu. Aku dan juga manusia-manusia lain mungkin saja adalah hasil dari suatu proses kebetulan. Tubuh yang terperangkap dalam perpustakan. Sebagai pembuka, teman dari kedokteran yang telah membedah tubuh untuk pertama kalinya bertanya tentang Tuhan. 'Tuhan ada di suatu huruf pada salah satu halaman buku diantara berjilid-jilid buku yang memenuhi rak koleksimu', jawab seorang kawan yang pustakawan. Selanjutnya tulisan ini kubuat dalam gaya dialog, yang aku kutip dari sekian banyak pembicaraan kami sore itu di lorong FISIP, sambil ditemani Teh Botol yang dibeli dari Cak Sur, tukang parkir Fakultas Farmasi. Meski ada kesamaan di antara kami, tapi siapapun layak untuk mendapatkan fakta layaknya koran dan transkrip penelitian, bukan hanya sebagai sistem kebingungan yang kucoba buat teratur.
MH : Bagaimana sampeyan memandang kehidupan?
Setiap manusia terjebak dalam tubuh diantara pengetahuan yang tak terbatas. Dimana ide hadir untuk mengungkapnya. Sistem filsafat yang berlimpah macamnya memiliki kesamaan yaitu karakter yang enigmatis. Semuanya menawarkan solusi dari permasalahan. Tapi yang lebih penting dari itu semua adalah menemukan permasalahannya. Orang-orang dari zamanmu memberlakukan kategorial yang ketat untuk pengetahuan. Filsafat yang sangat ambisius untuk membuat penjelasan yang sistematis, saya rayakan melalui puisi. Puisi menegaskan pada diri saya bahwa realitas hanyalah metafor yang sedang menyamar. Dalam hal ini, gagasan idealisme dari Barkeley cukup mempengaruhi saya.
MH : Berarti sampeyan percaya dengan Filsafat
Saya kehilangan penglihatan total ketika berumur 56 tahun. Tapi jika saya berpikir tentang masa lalu saya, karena hanya itu yang bisa saya lakukan dalam kesunyian. Aku tentu saja berpikir tentang teman-temanku dan juga cinta. Tapi paling banyak aku berpikir tentang buku-buku yang telah kubaca. Ingatanku penuh dengan kutipan-kutipan dari berbagai bahasa. Dan berbicara tentang filsafat bahwasanya kita tidak diperkaya dengan setiap solusi yang ditawarkan. Setiap solusi memberi saya keraguan, mereka sangat arbitrer, filsafat hanya memperlihatkan pada kita bahwa dunia lebih misterius daripada yang kita pikirkan. Yang ditawarkan filsafat sebenarnya bukanlah sebuah sistem. Seperti seseorang menyatakan hal yang konkrit dan transparan. Itu adalah kumpulan keraguan. Dan belajar tentang keragu-raguan ini adalah sebuah kesenangan.
IC : Sampeyan pernah bilang bahwa sampeyan menerima sekaligus menolak apapun yang kehidupan tawarkan tapi bukankah sampeyan punya kehendak dan mengkonstruksinya dalam setiap tindakan....
Saya tidak percaya dengan kehendak bebas. Dalam hal ini berarti saya tidak terkonstruksi olehnya. Sekarang, jika kamu yakin dengan kehendak bebas, kehendak bebas adalah semacam ilusi yang dibutuhkan. Tapi, dengan semangat menghormati masa laluku, saya menerima semuanya sebagai hal yang kondisional di atas sejarah dunia, atas seluruh proses kosmis yang mendahuluinya. Namun jika saat ini saya mengatakan bahwa saya tidak bebas, saya telah menyerahkan sepenuhnya. Ini dua tangan saya, saya bilang, saya bisa memilih tangan mana yang akan saya jatuhkan di meja, dan saat itu saya yakin, tapi sekarang setelah saya memilih menjatuhkan tangan kiri saya, bagaimana saya bisa menerima bahwa itu telah ditentukan dan membiarkan jatuhnya yang kanan akan menjadi sesuatu yang tidak mungkin.
Tapi berbicara tentang masa lalu sebagai hal yang kontras, kamu bisa berpikir bahwa jika aku berlaku buruk, saya tidak punya alasan untuk menyesalinya. Semuanya telah ditentukan. Mungkin kamu yang masih muda merasakan kehendak bebas sebagai sebuah kesenangan dan kemudahan, tapi bagi saya sangat sulit untuk mempercayainya.
LT : Lepas dari bahasan filsafat, meskipun sampeyan menyebut filsafat sebagai cabang dari sastra fantasi. Dalam klasifikasi sastra karya sampeyan ditempatkan dalam realisme magis, hal apa yang patut sampeyan katakan tentang itu?
Saya berterima kasih sekaligus membenci setiap orang yang mengkategorikan karya saya. Namun dalam hal ini saya masih mengingat tiap tema yang saya hadirkan seperti labirin dan cermin, gagasan labirin menggambarkan setiap kebingungan dan cermin membangkitkan 'Aku' yang lain. dan mungkin realisme magis yang coba menggabungkan faktor eksternal dan internal manusia dalam hal ini kenyataan fisik dan psikologis. Secara teknis, mungkin realisme magis mencoba menghadirkan seluruh aspek seperti pikiran, emosi, imajinasi, serta mitos-mitos budaya. Teks realisme magis mungkin dianggap sebagai sesuatu yang tidak nyata tapi hanya saja bagi saya setiap karya tidak pernah selesai dan anggapan bahwa itu telah selesai sebagai sesuatu yang menjengkelkan.
Akhir pembicaraan kami diakhiri dengan perbincangan tentang wanita dan cinta. Dan tak mungkin kutuliskan perasaan ketika aku mendengar kesunyiannya menanti di usia tua. Borges pergi dan dia meninggalkan sisa minuman yang kemudian kuminum. Dan matahari makin menjadi merah dan semakin ke Barat............
Bebal Serupa Ajal
Tepat berada di bawah bohlam, aku memulai untuk menyaji
Kukais kepekaan yang makin menua di tubuhku yang masih muda,
karena hanya karma yang ditambah-tambah,
tanpa secuil pun ingatan bahwa manisan hanyalah manisan,
memang bukan palsu,
hanya awetan yang terlanjur lama dan mengendap merusak jonjot-jonjot otak,
subuh diseduh musuh,
ashar ditubruk lahar,
isya' banyak tapi dibiarkannya itu luka melunak,
hingga kembali lagi kalah di waktu cahaya mulai membilang,
bebal benar.....
Benar-benar bebal, menyembul ke permukaan lagi sebuah keluputan yang terus memuai,
memuai rona muka, rona memuai di muka-muka,
maka muka-muka maki muka diri yang banyak meski tak dasa.....
Tidurnya tak kumba,
wajahnya tak wibisana,
Ah!
Kesini sana di ranah tanah tak jumpa api yang biru berapi-api baiknya, bebal.....
Bebal semoga tak jamah sampai tiba ajal
Kukais kepekaan yang makin menua di tubuhku yang masih muda,
karena hanya karma yang ditambah-tambah,
tanpa secuil pun ingatan bahwa manisan hanyalah manisan,
memang bukan palsu,
hanya awetan yang terlanjur lama dan mengendap merusak jonjot-jonjot otak,
subuh diseduh musuh,
ashar ditubruk lahar,
isya' banyak tapi dibiarkannya itu luka melunak,
hingga kembali lagi kalah di waktu cahaya mulai membilang,
bebal benar.....
Benar-benar bebal, menyembul ke permukaan lagi sebuah keluputan yang terus memuai,
memuai rona muka, rona memuai di muka-muka,
maka muka-muka maki muka diri yang banyak meski tak dasa.....
Tidurnya tak kumba,
wajahnya tak wibisana,
Ah!
Kesini sana di ranah tanah tak jumpa api yang biru berapi-api baiknya, bebal.....
Bebal semoga tak jamah sampai tiba ajal
Orang gila dari Jerman
"Requiem Aeternam Deo!"
Sekilas, kalimat diatas seperti benar-benar mengukuhkan Nietzsche sebagai atheis sejati yang sedang melakukan upaya meng-atheiskan kita secara aktif. Guncangan dari pernyataan Nietzsche ini masih terasa hingga sekarang, dan sempat membuat kalangan Yudeo-Kristiani kebakaran jenggot. Sebenarnya, kenapa Nietzsce harus membunuh Tuhan? Kenapa dia harus mendoakan Tuhan agar beristirahat dalam kedamaiannya yang abadi?
Sejenak, mari kita tengok. Apakah Nietzsche benar-benar berpikir untuk membunuh Tuhan dalam pengertian yang sebenarnya? Apakah Nietzsche tidak mengenal agama yang mengajarkan bahwa Tuhan adalah Zat Yang Maha Kuasa? Padahal, Nietzsche dibesarkan dalam tradisi Kristiani yang kental, kendatipun ia kemudian memutuskan berhenti belajar Teologi setelah mempelajarinya selama satu semester. Nietzsche tentu tidak sebodoh itu. Logika dan cara berpikir Nietzsche tentu tidak sedangkal itu. Lantas, upaya apa yang sedang dilakukan Nietzsche dengan pernyataannya yang hingga kini masih menggetarkan peradaban manusia itu?
Nietzsche sebenarnya sedang melakukan upaya oto-kritik (sedikit sekali di antara kita yang mau melakukannya, karena sedikit sekali di antara kita yang mau dikritik) terhadap dirinya sendiri dan tradisi Kristiani Barat. Tradisi yang berdalih ingin memanusiakan manusia, tapi justru melemparkan manusia kepada keterpurukannya sendiri ke dalam peradaban. Tuhan yang dikenal manusia adalah Tuhan yang dapat dijangkau oleh rasio, akibatnya Dia dikenal bukan sebagaimana Dia adanya, tapi 'Dia' yang telah direduksi oleh nalar.
Nietzsche menyalahkan moralitas Kristiani sebagai bentuk ideal asketisme. Dalam tradisi agama Islam, manusia memiliki kedudukannya yang paling khusus sebagai khalifatu 'fil ardhi (khalifah di Bumi). Kemudian, bentuk-bentuk asketisme melanggar kodrat yang telah digariskan kepada manusia ini. Ia melemparkan manusia kepada jurang yang paling dalam dari bentuk kelemahan, rasa bersalah, dan rasa takut. Ideal asketisme adalah idealisasi, sublimasi rasa sakit, benci, dendam, kelemahan, dan ketakberdayaan menjadi suatu yang bermakna supaya lebih bisa ditahan.
Konsep Nietzsche tentang kehendak untuk berkuasa berkaitan erat dengan konsep filsafat hidup (lebenphilosophie) tentang hidup. Tradisi filsafat hidup memandang hidup bukan semata-mata proses biologis, melainkan arus yang mengalir, meretas, dan tidak tunduk pada apa pun yang mematikan gerak hidup (1). Nietzsche memandang hidup sebagai insting atas pertumbuhan, kekekalan, dan pertambahan kuasa. Pendeknya, hidup menurut Nietzsche adalah kehendak untuk berkuasa! Dan tradisi asketisme telah mematikan insting dasar manusia ini, dan melemparkannya pada keadaan serba salah, ketakutan, dan tunduk pada otoritas yang memaksa di luar dirinya.
Tuhan yang semacam itu, bagi Nietzsche, bukanlah Tuhan yang Adil. Bukan Tuhan yang benar-benar Maha. Ia adalah 'tuhan' yang salah ditafsirkan mengikuti nalar rasio. Tuhan yang dikenal selama ini bukanlah Tuhan yang sebenarnya. Karena bagi Nietzsche sendiri, tidak ada fakta, yang ada hanyalah tafsir. Tuhan seharusnya benar-benar tidak dapat dijangkau oleh alam pikir manusia. Selama Tuhan masih dapat dijelaskan, berarti dia bukan Tuhan. Tuhan yang semacam ini harus dibunuh!
Kemudian, setelah kematian Tuhan, apa lagi? Nietzsche tidak memberikan jawaban yang ideal-final atas pertanyaan ini. Karena pencarian tentang Tuhan kemudian tidak pernah terjawab dengan tuntas, maka adalah tugas kita untuk terus menerus mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Pada titik inilah, konsep Nietzsche tentang keberpulangan abadi menemukan perannya. Setelah konsepsi-konsepsi tentang Tuhan mulai terbangun, maka tugas kita kemudian adalah menghancurkannya untuk kemudian dibangun, dan dihancurkan lagi, demikian seterusnya. Sehingga, tidak akan ada lagi 'tuhan-tuhan' palsu yang hadir dalam setiap individu, dan akibatnya membuat peradaban dipenuhi oleh manusia-manusia dekaden. Terakhir, saya akan menutup tulisan ini dengan kutipan dari salah satu aforisme Nietzsche yang berjudul 'Orang Gila', :
Bagaimana kita, pembunuh para pembunuh (Tuhan), merasa terhibur? Dia yang maha kudus dan maha kuasa yang dimiliki dunia, kini telah mati kehabisan darah karena pisau-pisau kita-siapakah yang hendak menghapuskan darah ini dari kita? Dengan air apakah kita dapat membersihkan diri kita? Perayaan tobat apa, pertunjukan kudus apa yang harus kita adakan? Bukankah kedahsyatan tindakan ini terlalu dahsyat bagi kita? Tidakkah kita harus menjadikan diri kita sebagai Tuhan supaya tindakan itu kelihatan bernilai? Belum pernah ada perbuatan yang lebih besar dan siapa saja yang lahir setelah kita-demi tindakan ini-akan termasuk ke dalam sejarah yang lebih besar daripada seluruh sejarah sampai sekarang ini!
Daftar Pustaka:
1. Adian, Donny Gahral, Percik Pemikiran Kontemporer, Jalasutra, 2006, hal. 15
2. BASIS, edisi Mei 2004, Orang Suci dari Jerman
(Friedrich Nietzsche)
Sekilas, kalimat diatas seperti benar-benar mengukuhkan Nietzsche sebagai atheis sejati yang sedang melakukan upaya meng-atheiskan kita secara aktif. Guncangan dari pernyataan Nietzsche ini masih terasa hingga sekarang, dan sempat membuat kalangan Yudeo-Kristiani kebakaran jenggot. Sebenarnya, kenapa Nietzsce harus membunuh Tuhan? Kenapa dia harus mendoakan Tuhan agar beristirahat dalam kedamaiannya yang abadi?
Sejenak, mari kita tengok. Apakah Nietzsche benar-benar berpikir untuk membunuh Tuhan dalam pengertian yang sebenarnya? Apakah Nietzsche tidak mengenal agama yang mengajarkan bahwa Tuhan adalah Zat Yang Maha Kuasa? Padahal, Nietzsche dibesarkan dalam tradisi Kristiani yang kental, kendatipun ia kemudian memutuskan berhenti belajar Teologi setelah mempelajarinya selama satu semester. Nietzsche tentu tidak sebodoh itu. Logika dan cara berpikir Nietzsche tentu tidak sedangkal itu. Lantas, upaya apa yang sedang dilakukan Nietzsche dengan pernyataannya yang hingga kini masih menggetarkan peradaban manusia itu?
Nietzsche sebenarnya sedang melakukan upaya oto-kritik (sedikit sekali di antara kita yang mau melakukannya, karena sedikit sekali di antara kita yang mau dikritik) terhadap dirinya sendiri dan tradisi Kristiani Barat. Tradisi yang berdalih ingin memanusiakan manusia, tapi justru melemparkan manusia kepada keterpurukannya sendiri ke dalam peradaban. Tuhan yang dikenal manusia adalah Tuhan yang dapat dijangkau oleh rasio, akibatnya Dia dikenal bukan sebagaimana Dia adanya, tapi 'Dia' yang telah direduksi oleh nalar.
Nietzsche menyalahkan moralitas Kristiani sebagai bentuk ideal asketisme. Dalam tradisi agama Islam, manusia memiliki kedudukannya yang paling khusus sebagai khalifatu 'fil ardhi (khalifah di Bumi). Kemudian, bentuk-bentuk asketisme melanggar kodrat yang telah digariskan kepada manusia ini. Ia melemparkan manusia kepada jurang yang paling dalam dari bentuk kelemahan, rasa bersalah, dan rasa takut. Ideal asketisme adalah idealisasi, sublimasi rasa sakit, benci, dendam, kelemahan, dan ketakberdayaan menjadi suatu yang bermakna supaya lebih bisa ditahan.
Konsep Nietzsche tentang kehendak untuk berkuasa berkaitan erat dengan konsep filsafat hidup (lebenphilosophie) tentang hidup. Tradisi filsafat hidup memandang hidup bukan semata-mata proses biologis, melainkan arus yang mengalir, meretas, dan tidak tunduk pada apa pun yang mematikan gerak hidup (1). Nietzsche memandang hidup sebagai insting atas pertumbuhan, kekekalan, dan pertambahan kuasa. Pendeknya, hidup menurut Nietzsche adalah kehendak untuk berkuasa! Dan tradisi asketisme telah mematikan insting dasar manusia ini, dan melemparkannya pada keadaan serba salah, ketakutan, dan tunduk pada otoritas yang memaksa di luar dirinya.
Tuhan yang semacam itu, bagi Nietzsche, bukanlah Tuhan yang Adil. Bukan Tuhan yang benar-benar Maha. Ia adalah 'tuhan' yang salah ditafsirkan mengikuti nalar rasio. Tuhan yang dikenal selama ini bukanlah Tuhan yang sebenarnya. Karena bagi Nietzsche sendiri, tidak ada fakta, yang ada hanyalah tafsir. Tuhan seharusnya benar-benar tidak dapat dijangkau oleh alam pikir manusia. Selama Tuhan masih dapat dijelaskan, berarti dia bukan Tuhan. Tuhan yang semacam ini harus dibunuh!
Kemudian, setelah kematian Tuhan, apa lagi? Nietzsche tidak memberikan jawaban yang ideal-final atas pertanyaan ini. Karena pencarian tentang Tuhan kemudian tidak pernah terjawab dengan tuntas, maka adalah tugas kita untuk terus menerus mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Pada titik inilah, konsep Nietzsche tentang keberpulangan abadi menemukan perannya. Setelah konsepsi-konsepsi tentang Tuhan mulai terbangun, maka tugas kita kemudian adalah menghancurkannya untuk kemudian dibangun, dan dihancurkan lagi, demikian seterusnya. Sehingga, tidak akan ada lagi 'tuhan-tuhan' palsu yang hadir dalam setiap individu, dan akibatnya membuat peradaban dipenuhi oleh manusia-manusia dekaden. Terakhir, saya akan menutup tulisan ini dengan kutipan dari salah satu aforisme Nietzsche yang berjudul 'Orang Gila', :
Daftar Pustaka:
1. Adian, Donny Gahral, Percik Pemikiran Kontemporer,
2. BASIS, edisi Mei 2004, Orang Suci dari Jerman
Onggokan Sampah-sampah proletar
Hai kaum pekerja, kalianlah sang pencipta kapital.
Dari kerja kerasmu, kerja tubuhmu, selimut penindasan, dan penjara, makin kuat mencengkeram hidupmu.
Kalianlah yang dengan semangat menjejali setiap jengkal isi pabrik dengan beragam produk. Kalian juga yang membangun ribuan gedung-gedung bertingkat yang apik, sehingga kaum kaya bisa memiliki gaya hidup yang berselera.
Kalian, tanpa lelah bergerak meratakan bumi, mendirikan pancang bangunan, untuk tujuan yang menyengsarakan diri kalian sendiri.Kalian yang penuh semangat mengeruk isi bumi menghabiskan setiap yang ada hingga tandas.
Kalian pula yang membabati kehijauan hutan, mengeringkan sungai-danau, mencemari tanah-udara di sekelilingmu. Ini sebuah penindasan yang kau restui.
Mereka yang percaya mereka "bekerja" untuk tujuan mulia mesti gigit jari. Sebab kerja seorang dokter tak lebih tinggi dari akuntan, atau pembunuh bayaran atau seorang penjaga toko buku atau seorang pekerja di sebuah LSM anti-globalisasi. Atau seorang dokter yang bekerja untuk perusahaan farmasi multinasional yang menghabiskan ribuan monyet tak berdosa untuk bahan riset obat kecantikan atau seorang dosen filsafat yang menyuapi moral dan pengetahuan setiap hari bagi para mahasiswanya agar siap mengabdi pada kapital. Ataupun seorang pekerja di restoran siap saji macam Mac Donald, yang makin bosan dengan rasa Hamburger.
Meski demikian jelas, para dokter adalah orang yang menyiapkan kondisi kesehatan para pekerja agar terus siap diperas untuk kepentingan tuannya, sang pemilik kapital. Sedang para penjaja buku adalah perawat mental dengan toko buku sebagai "apotiknya".
Saat ini semua kerja untuk kapital dan tentu saja semua kerja untuk kapitalis dan penguasa, sama-sama menjijikan.
Meski demikian, kami tetap akan memulai perjuangan penghancuran kapital dari kondisi semacam itu. Kami maksimalkan setiap celah di dalam retakan sistem ini untuk menyuarakan kenyataan dan mimpi-mimpi kami.
Kami sadar, kami hidup di tengah sistem kapitalis, kami juga membutuhkan kapital untuk hidup, dan membiayai proyek-proyek kami.
Kami tidak berusaha membuat ilusi terhadap diri kami dengan seakan-akan tengah mendirikan sebuah sekte yang akan hidup di tengah-tengah gurun pasir. Sebab, tidak ada dari kami yang sepenuhnya hidup di luar kapital.
Karena itu kami sadar bahwa perubahan tidak bisa sebagian atau separuh-separuh namun mesti sekaligus.
Tidak ada perubahan harian, perubahan adalah perubahan total, atau tidak sama sekali.
Maka, selamat merayakan hari para pekerja Mayday.....
Dari kerja kerasmu, kerja tubuhmu, selimut penindasan, dan penjara, makin kuat mencengkeram hidupmu.
Kalianlah yang dengan semangat menjejali setiap jengkal isi pabrik dengan beragam produk. Kalian juga yang membangun ribuan gedung-gedung bertingkat yang apik, sehingga kaum kaya bisa memiliki gaya hidup yang berselera.
Kalian, tanpa lelah bergerak meratakan bumi, mendirikan pancang bangunan, untuk tujuan yang menyengsarakan diri kalian sendiri.Kalian yang penuh semangat mengeruk isi bumi menghabiskan setiap yang ada hingga tandas.
Kalian pula yang membabati kehijauan hutan, mengeringkan sungai-danau, mencemari tanah-udara di sekelilingmu. Ini sebuah penindasan yang kau restui.
Mereka yang percaya mereka "bekerja" untuk tujuan mulia mesti gigit jari. Sebab kerja seorang dokter tak lebih tinggi dari akuntan, atau pembunuh bayaran atau seorang penjaga toko buku atau seorang pekerja di sebuah LSM anti-globalisasi. Atau seorang dokter yang bekerja untuk perusahaan farmasi multinasional yang menghabiskan ribuan monyet tak berdosa untuk bahan riset obat kecantikan atau seorang dosen filsafat yang menyuapi moral dan pengetahuan setiap hari bagi para mahasiswanya agar siap mengabdi pada kapital. Ataupun seorang pekerja di restoran siap saji macam Mac Donald, yang makin bosan dengan rasa Hamburger.
Meski demikian jelas, para dokter adalah orang yang menyiapkan kondisi kesehatan para pekerja agar terus siap diperas untuk kepentingan tuannya, sang pemilik kapital. Sedang para penjaja buku adalah perawat mental dengan toko buku sebagai "apotiknya".
Saat ini semua kerja untuk kapital dan tentu saja semua kerja untuk kapitalis dan penguasa, sama-sama menjijikan.
Meski demikian, kami tetap akan memulai perjuangan penghancuran kapital dari kondisi semacam itu. Kami maksimalkan setiap celah di dalam retakan sistem ini untuk menyuarakan kenyataan dan mimpi-mimpi kami.
Kami sadar, kami hidup di tengah sistem kapitalis, kami juga membutuhkan kapital untuk hidup, dan membiayai proyek-proyek kami.
Kami tidak berusaha membuat ilusi terhadap diri kami dengan seakan-akan tengah mendirikan sebuah sekte yang akan hidup di tengah-tengah gurun pasir. Sebab, tidak ada dari kami yang sepenuhnya hidup di luar kapital.
Karena itu kami sadar bahwa perubahan tidak bisa sebagian atau separuh-separuh namun mesti sekaligus.
Tidak ada perubahan harian, perubahan adalah perubahan total, atau tidak sama sekali.
Maka, selamat merayakan hari para pekerja Mayday.....
Cinta=Ontologisasi Absurditas?
Tulisan ini berusaha membedah dan mempertanyakan lagi makna cinta yang selama ini dianggap mapan dan berada nun jauh disana, hingga tak dapat terjelaskan dengan kata-kata. Kebanyakan orang jika ditanya, 'Anda percaya cinta?', jawabannya hampir pasti adalah, 'Ya, saya percaya cinta'. Jika pertanyaannya dilanjutkan, 'Bagaimana bentuknya?', yang ditanya akan bingung atau mungkin tersipu malu, 'Entahlah, dia tak dapat dijelaskan, hanya dapat dirasakan ketika ia hadir.' Waw, seketika kita akan terpana, sedahsyat itukah cinta hingga tak dapat dijelaskan? Benarkah ia memang benar-benar 'rasa' yang tak dapat dijelaskan, atau ia memang dibiarkan berada dalam keabstrakannya, sebagaimana keyakinan kaum Agnostik ketika diajak berbicara tentang Tuhan.
Tanpa sadar, sebenarnya kita sedang dan terus menerus membangun konstruksi yang ideal tentang cinta. Dia dipaksakan muncul sebagai sebentuk 'rasa' yang tak terjelaskan, namun karena kita membutuhkan pengakuan atas keberadaan kita sebagai makhluk yang ingin mencintai dan dicintai, akhirnya kita menerjemahkan cinta ke dalam sebentuk hubungan (orang biasa menyebutnya pacaran atau pernikahan). Dan lebih jauh lagi, kita dapat saja bertanya, 'Benarkah orang-orang yang berpacaran benar-benar didasarkan atas cinta dari kedua belah pihak, tanpa ada motif lain apapun di baliknya?"
Cinta yang selama ini dipahami sebagai bentuk cinta yang ideal adalah cinta yang tulus memberi, tanpa pernah mengharapkan balasan apapun. Dari salah satu sumber yang saya baca, tradisi ini berasal dari tradisi Kristiani Barat. Tuhan Allah mengirimkan anak-Nya yang tunggal ke atas dunia untuk menebus dosa umat manusia. Ia rela dikorbankan untuk menebus dosa-dosa tersebut, kendatipun tidak ada jaminan bahwa anak-anak manusia ini akan beriman kepada-Nya. Konstruksi ideal ini terus menerus dibangun, sehingga orang yang bercinta akan memiliki kadar cinta yang kurang sempurna jika mengharapkan balasan. Konstruksi ideal inilah yang akhirnya memberikan konsep-konsep turunan tentang bagaimana cara mencintai dan dicintai.
Cinta, yang sering sekali dibawa dan diterjemahkan ke dalam lagu-lagu cinta khas remaja yang berakhir tragis, dan di sisi lain ke dalam novel-novel remaja yang (anehnya) justru kerapkali berakhir bahagia, kemudian digiring untuk diturunkan ke dalam hubungan-hubungan pacaran, pernikahan dan sebagainya. Kita sering mendengar ungkapan (entahlah, mungkin saja ini cuma basa-basi), 'Kau menarik sekali, mungkin aku jatuh cinta padamu. Tapi akan lebih baik lagi kalau kau sedikit merubah penampilanmu, (atau) sedikit merubah sifat dan kepribadianmu'. Begitu juga, inilah ungkapan seorang pencinta (kendatipun, mungkin tidak akan diucapkan, hanya ada di dalam hati saja). 'Aku cinta padamu, aku rela melakukan apapun untukmu. Tapi awas! Kalau kau mengecewakanku, aku bisa nekat dan membuat hidupmu gelisah dan tidak nyaman.' Absurd! Bagian pertama kalimat nampak sekali bertentangan secara frontal dengan bagian kedua kalimat. Ini semacam benturan antara konstruksi sosial yang memaksa kita membangun konsepsi ideal tentang cinta dengan kebutuhan kita sebagai makhluk yang ingin diakui.
Mengutip Derrida, cinta adalah semacam 'metafisika kehadiran'. Ia adalah simbolisasi metafisika yang dipaksa hadir dalam diskursus masyarakat modern. Penanda tentang cinta dipaksakan sama kepada tiap individu, dan pada gilirannya ia mengeliminasi penanda-penanda lain tentang cinta. Ia adalah absurditas yang di-ontologi-sasi menjadi sebentuk ideal-final. Pertanyaannya mudah saja, kita turunkan pertanyaannya menjadi, 'Apa yang kita cari dari sebuah hubungan?'. Saya sepakat bahwa jawabannya adalah kenyamanan. Itu saja!
Sebuah hubungan (kalau anda termasuk yang sepakat bahwa cinta dapat diterjemahkan ke dalam sebentuk hubungan antar kekasih), sebenarnya sudah dapat berjalan dengan baik bila ada ketulusan, loyalitas, dan kejujuran (mungkin ada faktor lain, tapi tiga itulah yang saya kira paling utama). Jadi, kita tidak perlu menganggap cinta sebagai sesuatu yang ada diatas dan menekan kita. Ia justru hadir di tengah-tengah kita, menjadikan kita makhluk yang sadar dan tercerahkan.
EPILOG
Kalau anda sedang mencintai seseorang, atau ada yang bertanya pada anda, 'Apa kamu mencintaiku?'. Jawab saja,'Aku mencintaimu dengan segala yang ada pada dirimu.' Habis perkara.
Tanpa sadar, sebenarnya kita sedang dan terus menerus membangun konstruksi yang ideal tentang cinta. Dia dipaksakan muncul sebagai sebentuk 'rasa' yang tak terjelaskan, namun karena kita membutuhkan pengakuan atas keberadaan kita sebagai makhluk yang ingin mencintai dan dicintai, akhirnya kita menerjemahkan cinta ke dalam sebentuk hubungan (orang biasa menyebutnya pacaran atau pernikahan). Dan lebih jauh lagi, kita dapat saja bertanya, 'Benarkah orang-orang yang berpacaran benar-benar didasarkan atas cinta dari kedua belah pihak, tanpa ada motif lain apapun di baliknya?"
Cinta yang selama ini dipahami sebagai bentuk cinta yang ideal adalah cinta yang tulus memberi, tanpa pernah mengharapkan balasan apapun. Dari salah satu sumber yang saya baca, tradisi ini berasal dari tradisi Kristiani Barat. Tuhan Allah mengirimkan anak-Nya yang tunggal ke atas dunia untuk menebus dosa umat manusia. Ia rela dikorbankan untuk menebus dosa-dosa tersebut, kendatipun tidak ada jaminan bahwa anak-anak manusia ini akan beriman kepada-Nya. Konstruksi ideal ini terus menerus dibangun, sehingga orang yang bercinta akan memiliki kadar cinta yang kurang sempurna jika mengharapkan balasan. Konstruksi ideal inilah yang akhirnya memberikan konsep-konsep turunan tentang bagaimana cara mencintai dan dicintai.
Cinta, yang sering sekali dibawa dan diterjemahkan ke dalam lagu-lagu cinta khas remaja yang berakhir tragis, dan di sisi lain ke dalam novel-novel remaja yang (anehnya) justru kerapkali berakhir bahagia, kemudian digiring untuk diturunkan ke dalam hubungan-hubungan pacaran, pernikahan dan sebagainya. Kita sering mendengar ungkapan (entahlah, mungkin saja ini cuma basa-basi), 'Kau menarik sekali, mungkin aku jatuh cinta padamu. Tapi akan lebih baik lagi kalau kau sedikit merubah penampilanmu, (atau) sedikit merubah sifat dan kepribadianmu'. Begitu juga, inilah ungkapan seorang pencinta (kendatipun, mungkin tidak akan diucapkan, hanya ada di dalam hati saja). 'Aku cinta padamu, aku rela melakukan apapun untukmu. Tapi awas! Kalau kau mengecewakanku, aku bisa nekat dan membuat hidupmu gelisah dan tidak nyaman.' Absurd! Bagian pertama kalimat nampak sekali bertentangan secara frontal dengan bagian kedua kalimat. Ini semacam benturan antara konstruksi sosial yang memaksa kita membangun konsepsi ideal tentang cinta dengan kebutuhan kita sebagai makhluk yang ingin diakui.
Mengutip Derrida, cinta adalah semacam 'metafisika kehadiran'. Ia adalah simbolisasi metafisika yang dipaksa hadir dalam diskursus masyarakat modern. Penanda tentang cinta dipaksakan sama kepada tiap individu, dan pada gilirannya ia mengeliminasi penanda-penanda lain tentang cinta. Ia adalah absurditas yang di-ontologi-sasi menjadi sebentuk ideal-final. Pertanyaannya mudah saja, kita turunkan pertanyaannya menjadi, 'Apa yang kita cari dari sebuah hubungan?'. Saya sepakat bahwa jawabannya adalah kenyamanan. Itu saja!
Sebuah hubungan (kalau anda termasuk yang sepakat bahwa cinta dapat diterjemahkan ke dalam sebentuk hubungan antar kekasih), sebenarnya sudah dapat berjalan dengan baik bila ada ketulusan, loyalitas, dan kejujuran (mungkin ada faktor lain, tapi tiga itulah yang saya kira paling utama). Jadi, kita tidak perlu menganggap cinta sebagai sesuatu yang ada diatas dan menekan kita. Ia justru hadir di tengah-tengah kita, menjadikan kita makhluk yang sadar dan tercerahkan.
EPILOG
Kalau anda sedang mencintai seseorang, atau ada yang bertanya pada anda, 'Apa kamu mencintaiku?'. Jawab saja,'Aku mencintaimu dengan segala yang ada pada dirimu.' Habis perkara.
Jihad...??!!
Heran sama orang-orang fundamentalis kayak HTI, MMI, FPI, dsb. Gembar-gembor Jihad, tapi Ushul Fiqh belum tuntas. Muamalah belum bener. Kaidah pengambilan hukum belum ngerti. Kayak gitu mau angkat pedang.
Kenapa gak pernah perhatikan, Jihad dan Khilafah selalu diletakkan di halaman-halaman paling belakang dari kitab-kitab fikih. Kenapa gak pernah perhatikan Imam Syafi'i waktu pindah dari Mesir ke Baghdad terus bikin fatwa-fatwa baru, karena fatwa lamanya gak sesuai lagi sama budaya yang ada di tempat yang baru.
Jihad, jihad, kasian sekali kata ini sekarang. Bukan orang-orang suci yang melakukan jihad sekarang, tapi orang-orang yang tidak menghargai perbedaan. Enak aja bilang Nasionalis kafir, orang-orang yang memperjuangkan haknya dan menghargai perbedaan dibilang pluralis kafir. Aneh!!!
Tapi, orang-orang yang berjenggot panjang, celana cingkrang, pake jubah adalah ahli-ahli surga yang sebenarnya.
Bukan orang-orang yang memperjuangkan haknya dan hak orang lain yang berhak masuk surga. Bukan orang yang membenahi hatinya, dan hubungannya dengan kawula alit yang masuk surga. Yang masuk surga adalah orang-orang yang memaksakan khilafah, dimanapun itu. Meskipun ada ahlu dzimmah di dalam negeri yang mereka tinggali. Tempat mereka hidup dari tanah dan air yang dikandungnya.
Jihad, jihad, sempit sekali maknanya sekarang.
Kenapa gak pernah perhatikan, Jihad dan Khilafah selalu diletakkan di halaman-halaman paling belakang dari kitab-kitab fikih. Kenapa gak pernah perhatikan Imam Syafi'i waktu pindah dari Mesir ke Baghdad terus bikin fatwa-fatwa baru, karena fatwa lamanya gak sesuai lagi sama budaya yang ada di tempat yang baru.
Jihad, jihad, kasian sekali kata ini sekarang. Bukan orang-orang suci yang melakukan jihad sekarang, tapi orang-orang yang tidak menghargai perbedaan. Enak aja bilang Nasionalis kafir, orang-orang yang memperjuangkan haknya dan menghargai perbedaan dibilang pluralis kafir. Aneh!!!
Tapi, orang-orang yang berjenggot panjang, celana cingkrang, pake jubah adalah ahli-ahli surga yang sebenarnya.
Bukan orang-orang yang memperjuangkan haknya dan hak orang lain yang berhak masuk surga. Bukan orang yang membenahi hatinya, dan hubungannya dengan kawula alit yang masuk surga. Yang masuk surga adalah orang-orang yang memaksakan khilafah, dimanapun itu. Meskipun ada ahlu dzimmah di dalam negeri yang mereka tinggali. Tempat mereka hidup dari tanah dan air yang dikandungnya.
Jihad, jihad, sempit sekali maknanya sekarang.
Malam Jahanam
Lagi-lagi,
sudut itu membuatku rindu....
Terpal milik penjual kopi yang kosong dan basah karena hujan,
tempatku menunggu ujung malam hanya dengan seorang kawan,
dan si penjual kopi yang setia menunggu gerobaknya.....
Tempat itu pernah begitu indah,
tempat kau pernah menumpahkan senyummu,
yang sampai sekarang pun aku masih sering menikmatinya dari kejauhan.....
Tanah yang bau hujan,
jalanan yang lengang,
seperti tak pernah mengenal masa-masa itu.....
Aku ingin menikmati semuanya lagi,
senyummu,
rambutmu yang halus,
tawamu yang lepas......
Kadang aku berpikir,
sebegitu berbedanyakah kita,
atau hanya tak ingin saling memahami?
sudut itu membuatku rindu....
Terpal milik penjual kopi yang kosong dan basah karena hujan,
tempatku menunggu ujung malam hanya dengan seorang kawan,
dan si penjual kopi yang setia menunggu gerobaknya.....
Tempat itu pernah begitu indah,
tempat kau pernah menumpahkan senyummu,
yang sampai sekarang pun aku masih sering menikmatinya dari kejauhan.....
Tanah yang bau hujan,
jalanan yang lengang,
seperti tak pernah mengenal masa-masa itu.....
Aku ingin menikmati semuanya lagi,
senyummu,
rambutmu yang halus,
tawamu yang lepas......
Kadang aku berpikir,
sebegitu berbedanyakah kita,
atau hanya tak ingin saling memahami?
Sepenggal Kenangan Yang Terbelah (Dedikasi untuk kawan-kawan 1998)*
Dalam kenangan terhadap kawan Wiji Thukul: puisi-puisinya inilah suara perlawanannya. Puisi-puisi inilah yang membuat 'mereka' menghilangkannya.
HANYA ADA SATU KATA: LAWAN!
jika rakyat pergi
ketika penguasa pidato
kita harus hati-hati
barangkali mereka putus asa
kalau rakyat sembunyi
dan berbisik-bisik
ketika membicarakan masalahnya sendiri
penguasa harus waspada dan belajar untuk mendengar
bila rakyat tidak berani mengeluh
itu artinya sudah gawat
dan bila omongan penguasa tidak boleh dibantah
kebenaran pasti terancam
apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alas an
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata: lawan!
1986
SATU MIMPI SATU BARISAN
di lembang ada kawan sofyan
jualan bakso kini karena dipecat perusahaan
karena mogok karena ingin perbaikan
karena upah ya karena upah
di ciroyom ada kawan sodiyah
si lakinya terbaring di amben kontrakan
buruh pabrik teh
terbaring pucet dihantam tipes
ya dihantam tipes
juga ada neni
kawan bariah
bekas buruh pabrik kaos kaki
kini jadi buruh di perusahaan lagi
dia dipecat ya dia dipecat
kesalahannya : karena menolak
diperlakukan sewenang-wenang
di cimahi ada kawan udin buruh sablon
kemarin kami datang dia bilang
umpama dironsen pasti nampak
isi dadaku ini pasti rusak
karena amoniak ya amoniak
di cigugur ada kawan siti
punya cerita harus lembur sampai pagi
pulang lunglai lemes ngantuk letih
membungkuk 24 jam
ya 24 jam
di majalaya ada kawan eman
buruh pabrik handuk dulu
kini luntang-lantung cari kerjaan
bini hamin tiga bulan
kesalahan : karena tak sudi
terus diperah seperti sapi
di mana-mana ada sofyan ada sodiyah ada bariyah
tak bisa dibungkam kodim
tak bisa dibungkam popor senapan
di mana-mana ada neni ada udin ada siti
di mana-mana ada eman
di bandung - solo - jakarta - tangerang
tak bisa dibungkam kodim
tak bisa dibungkam popor senapan
satu mimpi
satu barisan
21 mei 1992
SEORANG BURUH MASUK TOKO
masuk toko
yang pertama kurasa adalah cahaya
yang terang benderang
tak seperti jalan-jalan sempit
di kampungku yang gelap
sorot mata para penjaga
dan lampu-lampu yang mengitariku
seperti sengaja hendak menunjukkan
dari mana asalku
aku melihat kakiku - jari-jarinya bergerak
aku melihat sandal jepitku
aku menoleh ke kiri ke kanan - bau-bau harum
aku menatap betis-betis dan sepatu
bulu tubuhku berdiri merasakan desir
kipas angin
yang berputar-putar halus lembut
badanku makin mingkup
aku melihat barang-barang yang dipajang
aku menghitung-hitung
aku menghitung upahku
aku menghitung harga tenagaku
yang menggerakkan mesin-mesin di pabrik
aku melihat harga-harga kebutuhan
di etalase
aku melihat bayanganku
makin letih
dan terus diisap
10 september 1991
Sehari Saja Kawan
Satu kawan bawa tiga kawan
Masing-masing nggandeng lima kawan
Sudah berapa kita punya kawan?
Satu kawan bawa tiga kawan
Masing-masing bawa lima kawan
Kalau kita satu pabrik bayangkan kawan
Kalau kita satu hati kawan
Satu tuntutan bersatu suara
Satu pabrik satu kekuatan
Kita tak mimpi kawan!
Kalau satu pabrik bersatu hati
Mogok dengan seratus poster
Tiga hari tiga malam
Kenapa tidak kawan
Kalau satu pabrik satu serikat buruh
Bersatu hati
Mogok bersama sepuluh daerah
Sehari saja kawan
Sehari saja kawan
Sehari saja kawan
Kalau kita yang berjuta-juta
Bersatu hati mogok
Maka kapas tetap terwujud kapas
Karena mesin pintal akan mati
Kapas akan tetap berwujud kapas
Tidak akan berwujud menjadi kain
Serupa pelangi pabrik akan lumpuh mati
Juga jalan-jalan
Anak-anak tak pergi sekolah
Karena tak ada bis
Langitun akan sunyi
Karena mesin pesawat terbang tak berputar
Karena lapangan terbang lumpuh mati
Sehari saja kawan
Kalau kita mogok kerja
Dan menyanyi dalam satu barisan
Sehari saja kawan
Kapitalis pasti kelabakan!!
12-11-94
Sebentar lagi 10 tahun Reformasi, tapi itu cuma euphoria ternyata. Jalanan sudah sepi, kawan. Kita yang berpanas-panas di jalanan justru dianggap bikin macet jalan. Padahal, kita sudah lelah dengan birokrasi yang berbelit-belit, aparat pemerintah yang korup, antrian minyak tanah dimana-mana, biaya pendidikan yang makin selangit mahalnya.
Untuk kawan-kawan yang hilang dan terbuang, napas perlawanan masih ada, tapi kini kita berdiri sendiri
HANYA ADA SATU KATA: LAWAN!
jika rakyat pergi
ketika penguasa pidato
kita harus hati-hati
barangkali mereka putus asa
kalau rakyat sembunyi
dan berbisik-bisik
ketika membicarakan masalahnya sendiri
penguasa harus waspada dan belajar untuk mendengar
bila rakyat tidak berani mengeluh
itu artinya sudah gawat
dan bila omongan penguasa tidak boleh dibantah
kebenaran pasti terancam
apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alas an
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata: lawan!
1986
SATU MIMPI SATU BARISAN
di lembang ada kawan sofyan
jualan bakso kini karena dipecat perusahaan
karena mogok karena ingin perbaikan
karena upah ya karena upah
di ciroyom ada kawan sodiyah
si lakinya terbaring di amben kontrakan
buruh pabrik teh
terbaring pucet dihantam tipes
ya dihantam tipes
juga ada neni
kawan bariah
bekas buruh pabrik kaos kaki
kini jadi buruh di perusahaan lagi
dia dipecat ya dia dipecat
kesalahannya : karena menolak
diperlakukan sewenang-wenang
di cimahi ada kawan udin buruh sablon
kemarin kami datang dia bilang
umpama dironsen pasti nampak
isi dadaku ini pasti rusak
karena amoniak ya amoniak
di cigugur ada kawan siti
punya cerita harus lembur sampai pagi
pulang lunglai lemes ngantuk letih
membungkuk 24 jam
ya 24 jam
di majalaya ada kawan eman
buruh pabrik handuk dulu
kini luntang-lantung cari kerjaan
bini hamin tiga bulan
kesalahan : karena tak sudi
terus diperah seperti sapi
di mana-mana ada sofyan ada sodiyah ada bariyah
tak bisa dibungkam kodim
tak bisa dibungkam popor senapan
di mana-mana ada neni ada udin ada siti
di mana-mana ada eman
di bandung - solo - jakarta - tangerang
tak bisa dibungkam kodim
tak bisa dibungkam popor senapan
satu mimpi
satu barisan
21 mei 1992
SEORANG BURUH MASUK TOKO
masuk toko
yang pertama kurasa adalah cahaya
yang terang benderang
tak seperti jalan-jalan sempit
di kampungku yang gelap
sorot mata para penjaga
dan lampu-lampu yang mengitariku
seperti sengaja hendak menunjukkan
dari mana asalku
aku melihat kakiku - jari-jarinya bergerak
aku melihat sandal jepitku
aku menoleh ke kiri ke kanan - bau-bau harum
aku menatap betis-betis dan sepatu
bulu tubuhku berdiri merasakan desir
kipas angin
yang berputar-putar halus lembut
badanku makin mingkup
aku melihat barang-barang yang dipajang
aku menghitung-hitung
aku menghitung upahku
aku menghitung harga tenagaku
yang menggerakkan mesin-mesin di pabrik
aku melihat harga-harga kebutuhan
di etalase
aku melihat bayanganku
makin letih
dan terus diisap
10 september 1991
Sehari Saja Kawan
Satu kawan bawa tiga kawan
Masing-masing nggandeng lima kawan
Sudah berapa kita punya kawan?
Satu kawan bawa tiga kawan
Masing-masing bawa lima kawan
Kalau kita satu pabrik bayangkan kawan
Kalau kita satu hati kawan
Satu tuntutan bersatu suara
Satu pabrik satu kekuatan
Kita tak mimpi kawan!
Kalau satu pabrik bersatu hati
Mogok dengan seratus poster
Tiga hari tiga malam
Kenapa tidak kawan
Kalau satu pabrik satu serikat buruh
Bersatu hati
Mogok bersama sepuluh daerah
Sehari saja kawan
Sehari saja kawan
Sehari saja kawan
Kalau kita yang berjuta-juta
Bersatu hati mogok
Maka kapas tetap terwujud kapas
Karena mesin pintal akan mati
Kapas akan tetap berwujud kapas
Tidak akan berwujud menjadi kain
Serupa pelangi pabrik akan lumpuh mati
Juga jalan-jalan
Anak-anak tak pergi sekolah
Karena tak ada bis
Langitun akan sunyi
Karena mesin pesawat terbang tak berputar
Karena lapangan terbang lumpuh mati
Sehari saja kawan
Kalau kita mogok kerja
Dan menyanyi dalam satu barisan
Sehari saja kawan
Kapitalis pasti kelabakan!!
12-11-94
Sebentar lagi 10 tahun Reformasi, tapi itu cuma euphoria ternyata. Jalanan sudah sepi, kawan. Kita yang berpanas-panas di jalanan justru dianggap bikin macet jalan. Padahal, kita sudah lelah dengan birokrasi yang berbelit-belit, aparat pemerintah yang korup, antrian minyak tanah dimana-mana, biaya pendidikan yang makin selangit mahalnya.
Untuk kawan-kawan yang hilang dan terbuang, napas perlawanan masih ada, tapi kini kita berdiri sendiri
Musik Pop, topeng Kapital atau Watak Revolusioner yang tersembunyi?
Musik Pop, topeng Kapital atau Watak Revolusioner yang tersembunyi?
Musik Pop, Bagaimana Keadaannya?
Membincang musik pop, yang ada dalam benak kita adalah musik yang enak didengar, mudah dicerna, dan target pasarnya adalah anak-anak muda. Lagu dan musiknya biasanya ada di bawah bendera major label, dan konsekuensinya adalah si penyanyi atau pencipta lagu harus terikat kontrak yang mereka buat dengan perusahaan rekaman. Karena itu, mereka harus bisa mencipta lagu dalam tempo yang sama-sama sudah disepakati sebelumnya.Karena itu, musik pop juga dapat dipahami berada di dalam lingkaran perputaran modal yang kuat, yang secara rutin memberi masukan pendapatan ke perusahaan rekaman.
Dari pola-pola diatas, nampak bahwa ada pembatasan kreatifitas dalam berseni. Penyanyi dituntut untuk mencipta lagu secepat-cepatnya, makin mellow makin bagus, tangga nadanya itu-itu saja tidak masalah, asal dapat diterima pasar, yang dalam hal ini terdiri dari anak-anak muda yang mudah sekali menerima apapun yang ada di luar diri mereka. Inilah yang oleh Adorno disebut 'budaya rendah' atau 'budaya massa' (Cultural Studies dan Kajian Budaya Pop : Jalasutra).
Musik bukan perkara identitas, musik bukan masalah bagaimana meng-aktualisasi diri, musik bukan tentang seni, tapi musik adalah manipulasi, musik adalah perputaran modal, musik adalah kapital yang bersembunyi di balik topeng Identitas bagi kalangan remaja. Musik pop mungkin tidak akan dapat disejajarkan dengan musik-musik 'budaya tinggi', seperti Mozart, Beethoven, atau yang lain, yang partitur nadanya sulit ditebak. Nada yang benar-benar sedang mencerminkan keadaan hati si pengarang, bukan semata-mata tuntutan pasar.
Dari pola-pola diatas, nampak bahwa ada pembatasan kreatifitas dalam berseni. Penyanyi dituntut untuk mencipta lagu secepat-cepatnya, makin mellow makin bagus, tangga nadanya itu-itu saja tidak masalah, asal dapat diterima pasar, yang dalam hal ini terdiri dari anak-anak muda yang mudah sekali menerima apapun yang ada di luar diri mereka. Inilah yang oleh Adorno disebut 'budaya rendah' atau 'budaya massa' (Cultural Studies dan Kajian Budaya Pop : Jalasutra).
Musik bukan perkara identitas, musik bukan masalah bagaimana meng-aktualisasi diri, musik bukan tentang seni, tapi musik adalah manipulasi, musik adalah perputaran modal, musik adalah kapital yang bersembunyi di balik topeng Identitas bagi kalangan remaja. Musik pop mungkin tidak akan dapat disejajarkan dengan musik-musik 'budaya tinggi', seperti Mozart, Beethoven, atau yang lain, yang partitur nadanya sulit ditebak. Nada yang benar-benar sedang mencerminkan keadaan hati si pengarang, bukan semata-mata tuntutan pasar.
Yang Minor
Untung, masih ada beberapa pemusik yang coba sedikit keluar dari mainstream macam begini. Sebut saja beberapa di antaranya : Radiohead, Muse, dan Pearl Jam. Radiohead, setelah menggarap lagu buat Soundtrack sebuah film (maaf sekali, saya lupa film apa, padahal baru tadi siang diobrolin sama temen-temen), tidak menginginkan lagunya tersebut dikemas dalam satu album yang utuh. Jadi, mereka ciptakan cuma satu lagu, khusus buat soundtrack film tadi. Seolah-olah mereka pengen kembali lagi ke Indie Label, padahal mereka sudah masuk ke Major Label.
Yang kedua, penerus silsilahnya Radiohead, adalah Muse. Musik yang dimainkan Muse, terasa penuh distorsi (mirip-mirip Radiohead juga sih), akan membuat risih dan sakit kuping yang tidak terbiasa, dan tidak ingin keluar dari mainstream. Tapi, begitulah cara mereka bermusik. Arti lirik lagunya pun tidak mudah ditebak.
Simak saja Hysteria-nya Muse :
It's bugging me
Calling me
And twisting me around
Yeah I'm endlessly
Caving in
And turning inside out
'cause I want you now
I want it now
Give me your heart and your soul
And I'm breaking out
I'm breaking out
That's when she'll lose control
Yeah it's hurting me
Morphing me
And forcing me to strive
To be endlessly
Caving in
And dreaming of my love
Because I want it now
I want it now
Give me your heart and your soul
I'm not breaking down
I'm breaking out
That's when she'll lose control
And I want you now
I want you now
I feel my heart implode
And I'm breaking out
Escaping now
Feeling my faith grow old
Dapat kesan ini adalah lagu cinta? Mungkin saja, tapi nyatanya ini adalah lagu tentang Krisis di Timur Tengah yang tidak kunjung usai.
Atau sepenggal lirik dari Knights of Cydonia :
How can we win,
when the fools can be King?
Jadi, tidak ada halangan, meskipun berada di dalam putaran modal, kreatifitas tetap terjaga, dan ini bukan musik yang egois.
Watak Budaya yang Revolusioner
Kebudayaan yang ada dalam masyarakat ternyata memiliki watak-watak revolusionernya sendiri. Kecenderungan revolusioner ini terus bergerak mematangkan dirinya sendiri, hingga pada satu titik yang sudah matang, pecahlah revolusi. Memang bukan Revolusi kapital seperti yang diinginkan Marx. Karena revolusi macam ini hanya tersedia bagi negara atau wilayah yang pondasi ekonominya benar-benar murni kapital. Indonesia sejak awal sudah menetapkan ekonominya adalah Ekonomi Pancasila yang notabene adalah sistem ekonomi campuran. Sosialis pada tataran Ideal, namun Kapital pada tataran Praktis. Akibatnya, revolusi tidak akan pernah matang di Indonesia.
Watak Revolusioner yang terkandung dalam kebudayaan adalah watak perlawanan terhadap kemapanan, yang memiliki kecenderungan penghisapan. Dan bila dirunut, ia memiliki benang merah, ketidakterputusan terhadap sejarah. Sebut saja tari Tayub atau Reog Ponorogo. Atau tari-tarian Perang dimanapun itu, Papua, Dayak, ataupun Bugis, adalah tarian yang mengandung semangat perlawanan. Tidak ada keterputusan sejarah di dalamnya. Sampai sekarang pun, kita akan selalu menemukan budaya dan kearifan lokal ini masih dalam bentuk dan semangat yang sama.
Kembali pada musik. Musiknya Kangen Band atau Radja, yang katanya 'musik marjinal' itu ternyata memiliki keterikatan sejarah yang kuat terhadap kearifan-kearifan lokal tersebut. Musik yang dimainkan Kangen Band sarat dengan cengkok Melayu, yang bisa dibilang kembali dikenalkan ke masyarakat luas oleh Iyeth Bustami lewat lagunya, "Laksamana Raja di Laut". Iyeth mengasumsikan laki-laki gagah yang diidamkan setiap wanita bukan laki-laki yang berpenghasilan jutaan atau bahkan milyaran rupiah. Laki-laki idamannya adalah laki-laki gagah bak sang Laksamana yang mampu menaklukkan lautan. Musik yang dimainkan Kangen Band, memiliki karakter yang sama dengan yang dibawakan Iyeth Bustami tadi.
Tapi, lagi-lagi ada sekelompok kalangan (taulah, Pemerintah) yang kontra-revolusioner mencoba memotong jalannya arus perlawanan budaya tadi. Salah satu jalan yang ditempuh adalah pelarangan beredarnya VCD Bajakan. Kalau mau jujur, justru peredaran VCD Bajakan inilah cita-cita revolusi. Semua orang berhak atas hiburan yang sama. Siapa saja bisa mendapatkannya. Orang kampung pun bisa menikmati musik jazz yang katanya musik berkelas itu.
EPILOG
Alih-alih membicarakan revolusi yang berbelit-belit, mencari jawaban atas teka-teki Supersemar yang tak jelas ujung pangkalnya, lebih baik kita menengok sejenak ke emperan-emperan toko, mencerna setiap detik denyut nadi yang berdetak di dalam nurani bangsa kita sendiri. Menghayati tiupan-tiupan napas perlawanan yang terkandung di dalamnya. Sebelum kita sendiri menjadi elitis dan reaksioner.
Simfoni Bisu
Seandainya bisa,
kuingin menari bersamamu.......
Tapi,
lidah ini kelu,
mata ini buta,
kaki ini lumpuh...........
Namun,
mulutku masih bisa mendendang sejuta nada.........
Sementara, laguku mengalun indah,
simponimu tak teralun,
lagu ini......BISU!!
kuingin menari bersamamu.......
Tapi,
lidah ini kelu,
mata ini buta,
kaki ini lumpuh...........
Namun,
mulutku masih bisa mendendang sejuta nada.........
Sementara, laguku mengalun indah,
simponimu tak teralun,
lagu ini......BISU!!
Anjing berekor Sembilan
Semalam,
aku bermimpi dikejar anjing berekor kepala manusia,
sembilan jumlah ekornya....
Ketika terbangun,
kudapati mimpi itu begitu nyata,
tanpa banyak cingcong,
akupun berlari dengan ekor yang sama
aku bermimpi dikejar anjing berekor kepala manusia,
sembilan jumlah ekornya....
Ketika terbangun,
kudapati mimpi itu begitu nyata,
tanpa banyak cingcong,
akupun berlari dengan ekor yang sama
Kesepian adalah Rumahku
Sarkastik, kata orang-orang,
padahal hanya waktu yang sedang bertingkah,
memilih dengan mata tertutup, siapa lagi yang akan dibunuhnya di pojok sepi yang mengalun lembut,
Diiringi bisikan halus sang filsuf agung,
'Kesepian adalah rumahku*, aku tak keberatan membaginya denganmu'
(* diambil dari Thus Spoken Zarathustra, oleh F. Nietzsche)
padahal hanya waktu yang sedang bertingkah,
memilih dengan mata tertutup, siapa lagi yang akan dibunuhnya di pojok sepi yang mengalun lembut,
Diiringi bisikan halus sang filsuf agung,
'Kesepian adalah rumahku*, aku tak keberatan membaginya denganmu'
(* diambil dari Thus Spoken Zarathustra, oleh F. Nietzsche)
Krisis Ideologi, Krisis Kesadaran
Kata ‘ideologi’ memang memiliki konotasi yang sedemikian buruk dalam kehidupan sehari-hari. Ia diasosiasikan dengan penipuan, mistifikasi, pembodohan, dan konflik politik. Namanya pun lekat dengan irasionalitas, emosional, dan fanatisme buta. Ideologi lekat dengan memori kekerasan dan konflik perang antara blok Barat yang dikomandani AS dan blok Timur dibawah kendali US. Apalagi sejrah perang ideologi telah memakan korban jutaan manusia dalam perang dunia kedua, ditambah jutaan lainnya korban pemerintahan fasisme Nazi Jerman pimpinan Hitler. Usai perang dunia yang dimenangkan blok Barat dan kemenangan paham neoliberalisme dalam ekonomi perdagangan, lalu para pengamat pun buru-buru mengklaim bahwa abad ke-20 ini adalah masa berakhirnya ideologi-ideologi dunia. Suatu masa yang penuh diwarnai dengan kekerasan, intrik, dan konflik politik.
Pandangan pejoratif tentang konsep ideologi ini sebenarnya bisa ditelusuri dari sejarah istilah ideologi sendiri. Istilah ini adalah derivasi dari ideologues yang muncul paska Revolusi Perancis. Napoleon Bonaparte menggunakan istilah ideologi untuk menyerang lawan-lawan politiknya yang memiliki ide-ide yang tidak realistik berkaitan dengan kepenntingan-kepentingan negara Perancis baru saat itu.
Selanjutnya Marx dan Engels memberikan elaborasi yang sistematis tentang ideologi. Warna pejoratif pun masih begitu melekat dalam pandangan mereka. Istilah ideologi digunakan Marx untuk menyerang dan menyingkap distorsi, ilusi dan inversi yang membentuk idealisme filosofis tradisi Hegelian German. Dengan mendasarkan diri pada metode materialisme historis, Marx mengkritik para ideolog German ini bahwa pikiran-pikiran mereka teralienasi dari kehidupan. Marx berpendirian, kapitalisme telah melahirkan pemahaman/pengetahuan yang tidak mencerminkan realitas sebenarnya (false knowledge), yaitu realitas pertentangan kelas antara kaum borjuis dan proletar dalam masyarakat industrial-kapitalistik. Pengetahuan yang tidak mencerminkan realitas atau kesadaran yang teralenasi dari praksis inilah yang disebut dengan ideologi. Ideologi merupakan representasi yang keliru tentang manusia dan dunia karena menganggap situasi yang ada sebagai natural, ahistoris, dan memistifikasi suatu tatanan sosial. Berkaitan dengan masyarakat, ideologi adalah bagian dari superstruktur yang melayani kekuatan substruktur ekonomi. Ideologi melegitimasi relasi sosial dan ekonomi, sekaligus senjata kelas berkuasa.
Pandangan klasik tentang ideologi ini kini menuai kritik tajam. Pandangan klasik dan pejoratif tentang ideologi telah mengaburkan fakta, bahwa ideologi sebenarnya beroperasi dalam ranah kehidupan sehari-hari, bahkan lebih dominan dalam suatu tatanan sosial tertentu. Bahkan ideologi sebagai praktek kebudayaan relatif memiliki otonominya sendiri, dan tidak bisa direduksi begitu saja kekuatan-kekuatan produksi dan kelompok ekonomi. Dalam kebudayaan sehari-hari, dalam seni pertunjukan rakyat, Tayub, ketoprak atau seni ludruk, bahkan dalam ritual istighasah, misalnya, bisa bersifat ideologis, atau dimasuki oleh berbagai kepentingan dan kekuasaan. Ideologi tidak lagi terpusat dan menjadi doktrin politik person kekuasaan, melainkan tersebar dalam ranah keseharian, sebagaimana kekuasaan yang tersebar dalam seluruh tatanan sosial.
Untuk memahami fenomena ini, saya banyak memanfaatkan insight para pemikir dan filsuf (post)strukturalis, khususnya Louis Althusser dan Michel Foucault sekaligus insihgt dari disiplin antropologi dan sejarah yang ikut menyumbang hal yang amat penting dalam perkembangan konsep ideologi dan kebudayaan.
I. Foucault dan Produksi Kekuasaan
Kritik tajam atas pandangan ideologi Marx ini dilakukan oleh Michel Foucault. Menurut Foucault, Marx masih terjerat mimpi dan kerinduan akan sebentuk kebenaran atau pengetahuan yang bebas dari distorsi, tipuan dan ilusi. Ia tergoda untuk mempertentangkan antara false knowledge dan true knowledge. Bahwa gagasan atau pengetahuan yang mencerminkan realitaslah yang benar. Di sini Marx menganggap realitas lebih prior dari gagasan dan kehidupan mental bersifat sekunder dari determinan ekonomi material. Sedangkan baginya ideologi harus dipertentangkan dengan apa yang dianggap sebagai kebenaran.
Menurut Foucault, wacana-wacana, pengetahuan-pengetahuan beserta institusi penopangnya pada dirinya sendiri tidaklah memuat kategori benar atau salah. Karena setiap masyarakat dan setiap zaman memiliki bentuk-bentuk wacananya sendiri yang di dalamnya kebenaran-kebenaran itu dibangun. Kebenaran adalah capaian sistem-sistem pengetahuan yang menguasai tatanan sosial yang berisi teknik-teknik, prosedur-prosedur nilai, tipe-tipe wacana, dan teknologi yang dikembangkan.
Masalah “kebenaran” selalu terkait dengan relasi kekuasaan dalam ranah sosial dan politik. "Kebenaran tidak di luar kekuasaan". Karena kebenaran berada dalam banyak cara dan praktek-praktek kehidupan manusia dalam mengatur diri mereka dan orang lain. Kebenaran diproduksi dengan pembentukan wilayah-wilayah di mana praktek benar dan salah dapat diciptakan dalam sekali aturan dan terkait. Karenanya, setiap ilmu pengetahuan memiliki rezim kebenarannya sendiri.
Bagaimana kekuasaan dan kebenaran itu berhubungan satu sama lain? Menurut Foucault, ini terjadi dalam praktek-praktek diskursif. Yakni: tempat di mana ucapan, tindakan, aturan-aturan yang diterapkan, alasan-alasan yang diberikan bertemu dan saling berhubungan, serta benar dan salah ditentukan di dalamnya. Melalui penelitian arkeologinya, Foucault menyelidiki dokumen-dokumen, tempat, serta bermacam-macam ritual pekerja dan publik, tempat di mana genealogi bentuk-bentuk sejarah ("teknologi moral", "rezim rasionalitas") itu hadir: Seperti: dalam praktek pengobatan klinis, hukuman penjara sebagai praktek menghukum umumnya; dan bagaimana orang gila dianggap sakit mental. Melalui bukti-bukti sejarah ini, Foucault menunjuk langsung pada praktek-praktek kekuasaan. Tipe praktek-praktek ini tidak hanya diatur oleh institusi, ditentukan oleh ideologi dan dituntun oleh keadaan pragmatis, tapi juga mempengaruhi regularitas mereka, logika, strategi pembuktian diri dan alasan-alasan mereka.
Dengan demikian bisa dikatakan bahwa ideologi sebenarnya berjalin-kelindan dengan praktek-praktek diskursif dalam masyarakat di mana relasi kekuasaan berlangsung dan kebenaran diciptakan.
II. Althusser dan Aparatus Ideologis
Jika Foucault menunjukkan bahwa kekuasaan tersebar dalam relasi sosial melalui proses diskursif, Althusser memberi sumbangan pada bagaimana ideologi beroperasi dan bagaimana ideologi direproduksi dan dipertahankan.
Pertama-tama dengan menolak Marx, ia menyatakan bahwa tidak mungkin kita bisa menangkap realitas sebenarnya karena kita tergantung pada bahasa. Paling-paling kita hanya bisa merasakan meski bukan ‘kondisi real’, cara-cara di mana kita telah dibentuk dalam ideologi melalui proses-proses pengenalan yang kompleks. Menurut Althusser, ideologi tidak mencerminkan dunia real, melainkan merepresentasikan “hubungan-hubungan imaginer” individu-individu terhadap dunia real. Bagi Althusser ideologi merupakan ciri yang dibutuhkan masyarakat sejauh masyarakat mampu memberikan makna untuk membentuk anggotanya dan merubah kondisi eksistensialnya. Masyarakat manusia menyembunyikan ideologi sebagai elemen dan atmosfir yang sangat diperlukan bagi nafas dan kehidupan sejarah mereka.
Kedua, ideologi memiliki eksistensi material, yakni aparatus-aparatus dan praktek-prakteknya sehingga di dalamnya ideologi bisa hidup. Dalam aparatus dan praktek-praktek inilah ideologi diyakini dan dihayati oleh semua kelompok, dan terus mereproduksi kondisi-kondisi dan hubungan tatanan masyarakat yang sudah ada, yakni tatanan masyarakat industri kapitalis. Menurutnya, agar ideologi diterima, diyakini dan dihayati oleh semua kelompok, maka ia harus dimaterialkan. Ideologi hidup dalam praktek-praktek kelompok kecil, dalam citraan, dan obyek yang digunakan dan ditunjuk masyarakat, dan dalam organisasi-organisasi. Misalnya, pada sekolah-sekolah, rumah tangga, organisasi perdagangan, media massa, olahraga, pengadilan, partai politik, universitas dan seterusnya. Ideologi, menurut Althusser, eksis dalam dan melalui lembaga-kembaga ini. Aparatus adalah eksistensi material ideologi.
Ketiga, ideologi membentuk individu-individu konkrit menjadi subyek. Dalam aparatus-aparatus, ideologi disosialisasikan dan diinterpelasi dalam diri subyek. Interpelasi subyek ini lalu membentuk realitas nampak pada kita sebagai ‘benar’ dan ‘jelas’. Misalnya demikian: ketika kita bersepeda motor, tiba-tiba ada bunyi peluit di belakang kita. Serentak terbayang dalam diri kita, ada polisi dan ada pelanggaran yang mungkin kita lakukan, lalu kita memalingkan muka dan berbalik. Hadirnya disposisi tentang ‘benar/salah’, atau ‘melanggar/tidak melanggar’ serta adanya ketundukan atas wacana otoritas (polisi) ini menunjukkan hadirnya ideologi. Ideologi menggerakkan diri kita secara nir-sadar, melalui proses interpelasi subyektif. Jika kita tidak merasakan interaksi dengan polisi adalah ideologis, justeru di situlah kekuatan ideologi. Yakni ‘denegasi’ praktis dari karakter ideologi sendiri. Ideologi bekerja secara nir-sadar menjadi bagian hidup dan gaya hidup sehari-hari.
Aparatus-aparatus ideologis ini merupakan alat hegemoni yang paling canggih untuk melanggengkan kekuasaan, melestarikan struktur kelas dominan, dan mengabadikan penindasan. Caranya, dengan mengusahakan sedapat mungkin agar ideologi itu diyakini oleh seluruh kelas dan kelompok, baik kelas berkuasa maupun yang dikuasai. Menurut Althusser, di sinilah ciri-ciri ideologi yang membingungkan itu memainkan peran. “Fungsi kelas ideologi adalah bahwa ideologi yang berkuasa adalah ideologi dari kelas yang berkuasa; Ideologi berkuasa membantu kelas penguasa dalam menguasai kelas tereksploitasi sekaligus memapankan dirinya sendiri sebagai kelas penguasa”.
Teori ideologi sebagai penipuan penguasa memperlihatkan bahwa mereka yang berada dalam posisi dominan sesungguhnya sama sekali tidak hadir secara alamiah atau karena keahliannya. Karena jika benar demikian maka tidak lagi dibutuhkan ideologi, juga tak perlu menjelaskan atau mempertahankan eksploitasi mereka. Sebaliknya ini menunjukkan persistensi stratifikasi sosial-politik dan ideologi dominan memerlukan legitimasi dua belah pihak dari penguasa dan yang dikuasai. Bila ideologi ini diterima oleh kedua pihak, ini artinya struktur kekuasaan dan privelegi yang timpang itu bisa dilestarikan. Dalam konteks ini ideologi sering menggunakan “bahasa resiprositas”. Dia mencontohkan bahwa imperialisme menganggap dirinya sah karena merasa bertanggng jawab atau berjasa membangun unit-unit sosial dan pentingnya hubungan sosial yang harmonis.
Apa yang dikemukakan Althusser memberikan insight baru tentang gagasan bagaimana ideologi itu dibentuk dan pertahankan serta apa efek-efeknya. Misalnya: bagaimana perbedaan kelas diinstitusionalisasikan melalui lembaga-lembaga sosial seperti sekolah; bagaimana institusi pendidikan itu menempatkan masyarakat dalam relasi kelas-kelas yang ada; bagaimana mitos tentang persamaan, individu, persamaan kesempatan, dan prestasi individu dimasukkan dalam teks dan praktek program sekolah dan kebijakan pendidikan nasional. Mitos-mitos kesamaan yang tumbuh dalam “produksi ketaksamaan” ini menunjukkan gagasan-gagasan yang ideologis.
Fungsi ideologi lainnya ialah menghubungkan masyarakat satu sama lain, dengan suatu dunia dan terutama diri mereka sendiri. Ideologi memberikan identitas tertentu. Misalnya, jika seorang individu mengimani Tuhan kemudian pergi sembahyang secara teratur, mengakui dosa-dosanya dan seterusnya; keyakinan itu lalu direalisasikan dalam praktek-praktek tertentu yang diatur
oleh ritual-ritual dengan menyediakan upacara-upacara yang melibatkan gerak dan sikap tubuhnya sebagai ekspresi kekuasaan yang saling terkait serta berhubungan dengan aparatus ideologis..
Dari contoh di atas jelaslah bahwa suatu gagasan memuat sekaligus tindakan, sentimen, dan gesturenya. Gagasan-gagasan itu hidup dalam tindakan-tindakan. Tindakan ini lalu menjadi praktik sehari-hari yang dikendalikan oleh ritual yang dia lakukan. Tiga hal ini (gagasan, praktek dan ritual) merupakan aspek material dari aparatus ideologis. Dalam aparatus itu ideologi
bekerja, memproduksi subyektifitas, dan menegaskan identitas tentang siapa kita sesungguhnya.
III. Ideologi sebagai Praktek Kebudayaan
Semakin jelas sekarang, gagasan-gagasan Althusser dan Foucault di atas memberi saham besar bagi pemikiran baru tentang konsep ideologi. Ideologi tidak lagi dilihat sebagai salah atau benar, tapi justeru memberikan kerangka dasar fundamental bagi individu dalam menafsirkan pengalaman dan ‘hidup’ sesuai dengan kondisi mereka. Kerangka dasar ini tidak hanya bersifat mental, tapi eksis sebagai praktis hidup kelompok sehari-hari. Dengan menganggap ideologi sebagai praktek-praktek material atau praktek budaya, maka kita bisa mengatakan bahwa sesungguhnya ideologi itu hidup bergerak dan karena itu pula manusia sendiri selalu hidup dalam suatu ideologi, di dalam representasi tertentu dari dunianya.
Dalam praktek-praktek budaya dan kebiasaan-kebiasaan sehari-hari inilah ideologi sesungguhnya direproduksi. Yakni, melalui aparatus-aparatus ideologis sebagaimana ditegaskan oleh Althusser. Jika demikian, praktis ideologi memasuki seluruh ruang dalam kehidupan sehari-hari kita secara nir-sadar. Ideologi menjadi bagian organik dari seluruh totalitas sosial dan dalam aktifitas keseharian. Karena unit-unit sosial merupakan bentukan ideologis, produk dari formasi diskursif kekuasaan (menurut Foucault) atau efek-efek dari apparatus ideologis yang beragam (dalam bahasa Althusser), maka untuk memahami totalitas sosial dan budaya ini membutuhkan “eksegesis” sebagaimana teks-teks sejarah dan sastra.
Pandangan bahwa budaya dan ideologi merupakan fenomana keseharian ini tidak lantas berarti cengkeraman ideologi sudah lemah, atau mungkin dianggap telah berakhir. Justeru ideologi dan kekuasaan telah mencengkeram seluruh tatanan sosial secara lebih luas dan kompleks ketimbang apa yang selama ini dibayangkan. Ideologi beroperasi di semua lini dan diproduksi terus-menerus dalam ritual-ritual dan perkumpulan-perkumpulan, kesenian-kesenian, dan citraan-citraan ideologis di mana representasi-representasi dan kategori-kategori dibangkitkan dan disebarkan. Jadi, kini ideologi tidak lagi dipahami sebagai produk kelas berkuasa atau efek dari kekuatan-kekuatan produksi. Melainkan hasil dari kombinasi berbagai elemen lain dan kekuasaan yang tersebar.
Selebihnya Stuart Hall juga menambahkan bahwa kebudayan tidak lagi dipahami sebagai cerminan praktek-praktek lain di dunia ide. Melainkan kebudayaan sendiri adalah suatu praktek, yaitu praktek penandaan dan ia memiliki produk tertentu: yaitu makna. Jadi dalam studi kebudayaan, bagi kaum strukturalis dan post-strukturalis, penekanannya bergeser dari isi budaya ke arah tipe-tipe penataan, dari pertanyaan tentang apa ke bagaimana sistem-sistem budaya itu. Misalnya dalam era globalisasi yang ditandai dengan kemajuan teknologi dan sarana komunikasi sekarang ini, masyarakat betul-betul dicekoki oleh produksi konsumsi. Di sini kekuatan modal menghadirkan kekuasaan representasi melalui kuasa tanda dan simbol: dalam iklan dan mode, misalnya. Konsekuensi lanjutnya, seluruh tatanan sosial adalah sebuah konstruksi saja berbarengan dengan kekuasaan yang diproduksi terus menerus.
Jadi, ideologi sekarang ini merupakan praktek budaya; suatu efek yang bersifat kultural dan terkait dengan institusi-institusi tertentu, kelompok-kelompok, dan struktur-struktur. Ideologi beroperasi secara “tersebar” (decentered), sebagai ‘ideologi-sebagai-kebudayaan.’ Ideologi berada dalam kompleksitas hubungan-hubungan antara berbagai bentuk kebudayaan (pengetahuan, citraan, dan lain-lain) dan institusi-institusinya, wacana-wacana dan aparatus-aparatus di mana masing-masing ini ditempatkan.
Lalu pertanyaannya bila kebudayaan sehari-hari tidak lepas dari ideologi, bagaimana dengan sains ilmiah. Apakah ia juga bersifat ideologis? Foucault menegaskan bahwa relasi-relasi kekuasaan tidak berada di luar tipe-tipe relasi-relasi seperti proses ekonomi, relasi pengetahuan, relasi seksual, dan lain-lain. Melainkan kekuasaan justeru imanen dalam proses relasi itu. Kekuasaan adalah beragam relasi-relasi kekuatan yang beroperasi dan membentuk organisasi dalam ruang itu. Dengan demikian, sains sosial kini juga harus dilihat sebagai konfigurasi kekuatan-kekuatan itu yang membentuk landscape modernitas dan modernitas akhir. Sains sosial sendiri merupakan kekuatan dan bentuk kebudayaan yang tak bebas dari kepentingan. Demikian juga sains alam. Ia juga tak lepas dari kepentingan-kepentingan komunitas ilmuwan.
Dari uraian di atas makin jelas sekarang betapa besar sumbangan kaum (post) strukturalis terutama Louis Althusser dan Michel Foucault dalam memperkaya gagasan tentang ideologi dan kebudayaan. Keduanya membuka tabir beroperasinya ideologi dengan memikirkan kembali kekuasaan, cara kerja, dan manifestasi-manifestasinya, tak terkecuali dalam sains sosial. Tidak ada batas-batas lokasi ideologi. Ideologi tidak lagi berada dalam kolektifitas masyarakat borjuis atau dalam struktur-struktur kekayaan dan kerja mereka. Ideologi tersebar ke seluruh tatanan sosial. Ia bukan hanya bersifat mental, tapi juga bereksistensi material dan historis. Ada keterkaitan antara pengetahuan dan institusi-institusi, bidang-bidang pengetahuan dan praktek-praktek kebudayaan melalui mana kekuasan diproduksi.
Pandangan pejoratif tentang konsep ideologi ini sebenarnya bisa ditelusuri dari sejarah istilah ideologi sendiri. Istilah ini adalah derivasi dari ideologues yang muncul paska Revolusi Perancis. Napoleon Bonaparte menggunakan istilah ideologi untuk menyerang lawan-lawan politiknya yang memiliki ide-ide yang tidak realistik berkaitan dengan kepenntingan-kepentingan negara Perancis baru saat itu.
Selanjutnya Marx dan Engels memberikan elaborasi yang sistematis tentang ideologi. Warna pejoratif pun masih begitu melekat dalam pandangan mereka. Istilah ideologi digunakan Marx untuk menyerang dan menyingkap distorsi, ilusi dan inversi yang membentuk idealisme filosofis tradisi Hegelian German. Dengan mendasarkan diri pada metode materialisme historis, Marx mengkritik para ideolog German ini bahwa pikiran-pikiran mereka teralienasi dari kehidupan. Marx berpendirian, kapitalisme telah melahirkan pemahaman/pengetahuan yang tidak mencerminkan realitas sebenarnya (false knowledge), yaitu realitas pertentangan kelas antara kaum borjuis dan proletar dalam masyarakat industrial-kapitalistik. Pengetahuan yang tidak mencerminkan realitas atau kesadaran yang teralenasi dari praksis inilah yang disebut dengan ideologi. Ideologi merupakan representasi yang keliru tentang manusia dan dunia karena menganggap situasi yang ada sebagai natural, ahistoris, dan memistifikasi suatu tatanan sosial. Berkaitan dengan masyarakat, ideologi adalah bagian dari superstruktur yang melayani kekuatan substruktur ekonomi. Ideologi melegitimasi relasi sosial dan ekonomi, sekaligus senjata kelas berkuasa.
Pandangan klasik tentang ideologi ini kini menuai kritik tajam. Pandangan klasik dan pejoratif tentang ideologi telah mengaburkan fakta, bahwa ideologi sebenarnya beroperasi dalam ranah kehidupan sehari-hari, bahkan lebih dominan dalam suatu tatanan sosial tertentu. Bahkan ideologi sebagai praktek kebudayaan relatif memiliki otonominya sendiri, dan tidak bisa direduksi begitu saja kekuatan-kekuatan produksi dan kelompok ekonomi. Dalam kebudayaan sehari-hari, dalam seni pertunjukan rakyat, Tayub, ketoprak atau seni ludruk, bahkan dalam ritual istighasah, misalnya, bisa bersifat ideologis, atau dimasuki oleh berbagai kepentingan dan kekuasaan. Ideologi tidak lagi terpusat dan menjadi doktrin politik person kekuasaan, melainkan tersebar dalam ranah keseharian, sebagaimana kekuasaan yang tersebar dalam seluruh tatanan sosial.
Untuk memahami fenomena ini, saya banyak memanfaatkan insight para pemikir dan filsuf (post)strukturalis, khususnya Louis Althusser dan Michel Foucault sekaligus insihgt dari disiplin antropologi dan sejarah yang ikut menyumbang hal yang amat penting dalam perkembangan konsep ideologi dan kebudayaan.
I. Foucault dan Produksi Kekuasaan
Kritik tajam atas pandangan ideologi Marx ini dilakukan oleh Michel Foucault. Menurut Foucault, Marx masih terjerat mimpi dan kerinduan akan sebentuk kebenaran atau pengetahuan yang bebas dari distorsi, tipuan dan ilusi. Ia tergoda untuk mempertentangkan antara false knowledge dan true knowledge. Bahwa gagasan atau pengetahuan yang mencerminkan realitaslah yang benar. Di sini Marx menganggap realitas lebih prior dari gagasan dan kehidupan mental bersifat sekunder dari determinan ekonomi material. Sedangkan baginya ideologi harus dipertentangkan dengan apa yang dianggap sebagai kebenaran.
Menurut Foucault, wacana-wacana, pengetahuan-pengetahuan beserta institusi penopangnya pada dirinya sendiri tidaklah memuat kategori benar atau salah. Karena setiap masyarakat dan setiap zaman memiliki bentuk-bentuk wacananya sendiri yang di dalamnya kebenaran-kebenaran itu dibangun. Kebenaran adalah capaian sistem-sistem pengetahuan yang menguasai tatanan sosial yang berisi teknik-teknik, prosedur-prosedur nilai, tipe-tipe wacana, dan teknologi yang dikembangkan.
Masalah “kebenaran” selalu terkait dengan relasi kekuasaan dalam ranah sosial dan politik. "Kebenaran tidak di luar kekuasaan". Karena kebenaran berada dalam banyak cara dan praktek-praktek kehidupan manusia dalam mengatur diri mereka dan orang lain. Kebenaran diproduksi dengan pembentukan wilayah-wilayah di mana praktek benar dan salah dapat diciptakan dalam sekali aturan dan terkait. Karenanya, setiap ilmu pengetahuan memiliki rezim kebenarannya sendiri.
Bagaimana kekuasaan dan kebenaran itu berhubungan satu sama lain? Menurut Foucault, ini terjadi dalam praktek-praktek diskursif. Yakni: tempat di mana ucapan, tindakan, aturan-aturan yang diterapkan, alasan-alasan yang diberikan bertemu dan saling berhubungan, serta benar dan salah ditentukan di dalamnya. Melalui penelitian arkeologinya, Foucault menyelidiki dokumen-dokumen, tempat, serta bermacam-macam ritual pekerja dan publik, tempat di mana genealogi bentuk-bentuk sejarah ("teknologi moral", "rezim rasionalitas") itu hadir: Seperti: dalam praktek pengobatan klinis, hukuman penjara sebagai praktek menghukum umumnya; dan bagaimana orang gila dianggap sakit mental. Melalui bukti-bukti sejarah ini, Foucault menunjuk langsung pada praktek-praktek kekuasaan. Tipe praktek-praktek ini tidak hanya diatur oleh institusi, ditentukan oleh ideologi dan dituntun oleh keadaan pragmatis, tapi juga mempengaruhi regularitas mereka, logika, strategi pembuktian diri dan alasan-alasan mereka.
Dengan demikian bisa dikatakan bahwa ideologi sebenarnya berjalin-kelindan dengan praktek-praktek diskursif dalam masyarakat di mana relasi kekuasaan berlangsung dan kebenaran diciptakan.
II. Althusser dan Aparatus Ideologis
Jika Foucault menunjukkan bahwa kekuasaan tersebar dalam relasi sosial melalui proses diskursif, Althusser memberi sumbangan pada bagaimana ideologi beroperasi dan bagaimana ideologi direproduksi dan dipertahankan.
Pertama-tama dengan menolak Marx, ia menyatakan bahwa tidak mungkin kita bisa menangkap realitas sebenarnya karena kita tergantung pada bahasa. Paling-paling kita hanya bisa merasakan meski bukan ‘kondisi real’, cara-cara di mana kita telah dibentuk dalam ideologi melalui proses-proses pengenalan yang kompleks. Menurut Althusser, ideologi tidak mencerminkan dunia real, melainkan merepresentasikan “hubungan-hubungan imaginer” individu-individu terhadap dunia real. Bagi Althusser ideologi merupakan ciri yang dibutuhkan masyarakat sejauh masyarakat mampu memberikan makna untuk membentuk anggotanya dan merubah kondisi eksistensialnya. Masyarakat manusia menyembunyikan ideologi sebagai elemen dan atmosfir yang sangat diperlukan bagi nafas dan kehidupan sejarah mereka.
Kedua, ideologi memiliki eksistensi material, yakni aparatus-aparatus dan praktek-prakteknya sehingga di dalamnya ideologi bisa hidup. Dalam aparatus dan praktek-praktek inilah ideologi diyakini dan dihayati oleh semua kelompok, dan terus mereproduksi kondisi-kondisi dan hubungan tatanan masyarakat yang sudah ada, yakni tatanan masyarakat industri kapitalis. Menurutnya, agar ideologi diterima, diyakini dan dihayati oleh semua kelompok, maka ia harus dimaterialkan. Ideologi hidup dalam praktek-praktek kelompok kecil, dalam citraan, dan obyek yang digunakan dan ditunjuk masyarakat, dan dalam organisasi-organisasi. Misalnya, pada sekolah-sekolah, rumah tangga, organisasi perdagangan, media massa, olahraga, pengadilan, partai politik, universitas dan seterusnya. Ideologi, menurut Althusser, eksis dalam dan melalui lembaga-kembaga ini. Aparatus adalah eksistensi material ideologi.
Ketiga, ideologi membentuk individu-individu konkrit menjadi subyek. Dalam aparatus-aparatus, ideologi disosialisasikan dan diinterpelasi dalam diri subyek. Interpelasi subyek ini lalu membentuk realitas nampak pada kita sebagai ‘benar’ dan ‘jelas’. Misalnya demikian: ketika kita bersepeda motor, tiba-tiba ada bunyi peluit di belakang kita. Serentak terbayang dalam diri kita, ada polisi dan ada pelanggaran yang mungkin kita lakukan, lalu kita memalingkan muka dan berbalik. Hadirnya disposisi tentang ‘benar/salah’, atau ‘melanggar/tidak melanggar’ serta adanya ketundukan atas wacana otoritas (polisi) ini menunjukkan hadirnya ideologi. Ideologi menggerakkan diri kita secara nir-sadar, melalui proses interpelasi subyektif. Jika kita tidak merasakan interaksi dengan polisi adalah ideologis, justeru di situlah kekuatan ideologi. Yakni ‘denegasi’ praktis dari karakter ideologi sendiri. Ideologi bekerja secara nir-sadar menjadi bagian hidup dan gaya hidup sehari-hari.
Aparatus-aparatus ideologis ini merupakan alat hegemoni yang paling canggih untuk melanggengkan kekuasaan, melestarikan struktur kelas dominan, dan mengabadikan penindasan. Caranya, dengan mengusahakan sedapat mungkin agar ideologi itu diyakini oleh seluruh kelas dan kelompok, baik kelas berkuasa maupun yang dikuasai. Menurut Althusser, di sinilah ciri-ciri ideologi yang membingungkan itu memainkan peran. “Fungsi kelas ideologi adalah bahwa ideologi yang berkuasa adalah ideologi dari kelas yang berkuasa; Ideologi berkuasa membantu kelas penguasa dalam menguasai kelas tereksploitasi sekaligus memapankan dirinya sendiri sebagai kelas penguasa”.
Teori ideologi sebagai penipuan penguasa memperlihatkan bahwa mereka yang berada dalam posisi dominan sesungguhnya sama sekali tidak hadir secara alamiah atau karena keahliannya. Karena jika benar demikian maka tidak lagi dibutuhkan ideologi, juga tak perlu menjelaskan atau mempertahankan eksploitasi mereka. Sebaliknya ini menunjukkan persistensi stratifikasi sosial-politik dan ideologi dominan memerlukan legitimasi dua belah pihak dari penguasa dan yang dikuasai. Bila ideologi ini diterima oleh kedua pihak, ini artinya struktur kekuasaan dan privelegi yang timpang itu bisa dilestarikan. Dalam konteks ini ideologi sering menggunakan “bahasa resiprositas”. Dia mencontohkan bahwa imperialisme menganggap dirinya sah karena merasa bertanggng jawab atau berjasa membangun unit-unit sosial dan pentingnya hubungan sosial yang harmonis.
Apa yang dikemukakan Althusser memberikan insight baru tentang gagasan bagaimana ideologi itu dibentuk dan pertahankan serta apa efek-efeknya. Misalnya: bagaimana perbedaan kelas diinstitusionalisasikan melalui lembaga-lembaga sosial seperti sekolah; bagaimana institusi pendidikan itu menempatkan masyarakat dalam relasi kelas-kelas yang ada; bagaimana mitos tentang persamaan, individu, persamaan kesempatan, dan prestasi individu dimasukkan dalam teks dan praktek program sekolah dan kebijakan pendidikan nasional. Mitos-mitos kesamaan yang tumbuh dalam “produksi ketaksamaan” ini menunjukkan gagasan-gagasan yang ideologis.
Fungsi ideologi lainnya ialah menghubungkan masyarakat satu sama lain, dengan suatu dunia dan terutama diri mereka sendiri. Ideologi memberikan identitas tertentu. Misalnya, jika seorang individu mengimani Tuhan kemudian pergi sembahyang secara teratur, mengakui dosa-dosanya dan seterusnya; keyakinan itu lalu direalisasikan dalam praktek-praktek tertentu yang diatur
oleh ritual-ritual dengan menyediakan upacara-upacara yang melibatkan gerak dan sikap tubuhnya sebagai ekspresi kekuasaan yang saling terkait serta berhubungan dengan aparatus ideologis..
Dari contoh di atas jelaslah bahwa suatu gagasan memuat sekaligus tindakan, sentimen, dan gesturenya. Gagasan-gagasan itu hidup dalam tindakan-tindakan. Tindakan ini lalu menjadi praktik sehari-hari yang dikendalikan oleh ritual yang dia lakukan. Tiga hal ini (gagasan, praktek dan ritual) merupakan aspek material dari aparatus ideologis. Dalam aparatus itu ideologi
bekerja, memproduksi subyektifitas, dan menegaskan identitas tentang siapa kita sesungguhnya.
III. Ideologi sebagai Praktek Kebudayaan
Semakin jelas sekarang, gagasan-gagasan Althusser dan Foucault di atas memberi saham besar bagi pemikiran baru tentang konsep ideologi. Ideologi tidak lagi dilihat sebagai salah atau benar, tapi justeru memberikan kerangka dasar fundamental bagi individu dalam menafsirkan pengalaman dan ‘hidup’ sesuai dengan kondisi mereka. Kerangka dasar ini tidak hanya bersifat mental, tapi eksis sebagai praktis hidup kelompok sehari-hari. Dengan menganggap ideologi sebagai praktek-praktek material atau praktek budaya, maka kita bisa mengatakan bahwa sesungguhnya ideologi itu hidup bergerak dan karena itu pula manusia sendiri selalu hidup dalam suatu ideologi, di dalam representasi tertentu dari dunianya.
Dalam praktek-praktek budaya dan kebiasaan-kebiasaan sehari-hari inilah ideologi sesungguhnya direproduksi. Yakni, melalui aparatus-aparatus ideologis sebagaimana ditegaskan oleh Althusser. Jika demikian, praktis ideologi memasuki seluruh ruang dalam kehidupan sehari-hari kita secara nir-sadar. Ideologi menjadi bagian organik dari seluruh totalitas sosial dan dalam aktifitas keseharian. Karena unit-unit sosial merupakan bentukan ideologis, produk dari formasi diskursif kekuasaan (menurut Foucault) atau efek-efek dari apparatus ideologis yang beragam (dalam bahasa Althusser), maka untuk memahami totalitas sosial dan budaya ini membutuhkan “eksegesis” sebagaimana teks-teks sejarah dan sastra.
Pandangan bahwa budaya dan ideologi merupakan fenomana keseharian ini tidak lantas berarti cengkeraman ideologi sudah lemah, atau mungkin dianggap telah berakhir. Justeru ideologi dan kekuasaan telah mencengkeram seluruh tatanan sosial secara lebih luas dan kompleks ketimbang apa yang selama ini dibayangkan. Ideologi beroperasi di semua lini dan diproduksi terus-menerus dalam ritual-ritual dan perkumpulan-perkumpulan, kesenian-kesenian, dan citraan-citraan ideologis di mana representasi-representasi dan kategori-kategori dibangkitkan dan disebarkan. Jadi, kini ideologi tidak lagi dipahami sebagai produk kelas berkuasa atau efek dari kekuatan-kekuatan produksi. Melainkan hasil dari kombinasi berbagai elemen lain dan kekuasaan yang tersebar.
Selebihnya Stuart Hall juga menambahkan bahwa kebudayan tidak lagi dipahami sebagai cerminan praktek-praktek lain di dunia ide. Melainkan kebudayaan sendiri adalah suatu praktek, yaitu praktek penandaan dan ia memiliki produk tertentu: yaitu makna. Jadi dalam studi kebudayaan, bagi kaum strukturalis dan post-strukturalis, penekanannya bergeser dari isi budaya ke arah tipe-tipe penataan, dari pertanyaan tentang apa ke bagaimana sistem-sistem budaya itu. Misalnya dalam era globalisasi yang ditandai dengan kemajuan teknologi dan sarana komunikasi sekarang ini, masyarakat betul-betul dicekoki oleh produksi konsumsi. Di sini kekuatan modal menghadirkan kekuasaan representasi melalui kuasa tanda dan simbol: dalam iklan dan mode, misalnya. Konsekuensi lanjutnya, seluruh tatanan sosial adalah sebuah konstruksi saja berbarengan dengan kekuasaan yang diproduksi terus menerus.
Jadi, ideologi sekarang ini merupakan praktek budaya; suatu efek yang bersifat kultural dan terkait dengan institusi-institusi tertentu, kelompok-kelompok, dan struktur-struktur. Ideologi beroperasi secara “tersebar” (decentered), sebagai ‘ideologi-sebagai-kebudayaan.’ Ideologi berada dalam kompleksitas hubungan-hubungan antara berbagai bentuk kebudayaan (pengetahuan, citraan, dan lain-lain) dan institusi-institusinya, wacana-wacana dan aparatus-aparatus di mana masing-masing ini ditempatkan.
Lalu pertanyaannya bila kebudayaan sehari-hari tidak lepas dari ideologi, bagaimana dengan sains ilmiah. Apakah ia juga bersifat ideologis? Foucault menegaskan bahwa relasi-relasi kekuasaan tidak berada di luar tipe-tipe relasi-relasi seperti proses ekonomi, relasi pengetahuan, relasi seksual, dan lain-lain. Melainkan kekuasaan justeru imanen dalam proses relasi itu. Kekuasaan adalah beragam relasi-relasi kekuatan yang beroperasi dan membentuk organisasi dalam ruang itu. Dengan demikian, sains sosial kini juga harus dilihat sebagai konfigurasi kekuatan-kekuatan itu yang membentuk landscape modernitas dan modernitas akhir. Sains sosial sendiri merupakan kekuatan dan bentuk kebudayaan yang tak bebas dari kepentingan. Demikian juga sains alam. Ia juga tak lepas dari kepentingan-kepentingan komunitas ilmuwan.
Dari uraian di atas makin jelas sekarang betapa besar sumbangan kaum (post) strukturalis terutama Louis Althusser dan Michel Foucault dalam memperkaya gagasan tentang ideologi dan kebudayaan. Keduanya membuka tabir beroperasinya ideologi dengan memikirkan kembali kekuasaan, cara kerja, dan manifestasi-manifestasinya, tak terkecuali dalam sains sosial. Tidak ada batas-batas lokasi ideologi. Ideologi tidak lagi berada dalam kolektifitas masyarakat borjuis atau dalam struktur-struktur kekayaan dan kerja mereka. Ideologi tersebar ke seluruh tatanan sosial. Ia bukan hanya bersifat mental, tapi juga bereksistensi material dan historis. Ada keterkaitan antara pengetahuan dan institusi-institusi, bidang-bidang pengetahuan dan praktek-praktek kebudayaan melalui mana kekuasan diproduksi.
Sedikit keangkuhan yang mencuat
Teringat ucapan seorang teman, "Ken, omonganmu gak bisa rada enteng dikit apa?" (setelah di-translate jadi kayak gitu Bahasa Indonesianya kurang lebih). Waduh, iya ya, tanpa sadar memang saya sudah terlanjur biasa pake kata-kata sulit dan pikiran yang terbang entah kemana-mana. Sampai-sampai saya sering merasa tidak adil ketika ada di dalam kelas. Salah seorang dosen pernah bertanya pada teman saya, (memang bukan saya yang ditanya waktu itu, tapi otak saya juga mencoba berpikir untuk menjawab pertanyaan si Dosen). Pertanyaan si Dosen waktu itu adalah, "Apa itu kuesioner?".
Duengg!!! Semua memori dalam otak saya panggil lagi, saya coba keluarkan, tapi tetap tidak saya temukan jawaban dari pertanyaan dosen tadi. Wah, wah, ada yang tidak beres....!!!
Well, sejak awal saya kuliah memang saya selalu bersentuhan dengan orang-orang yang pikirannya sudah kacau, selalu jauh ke depan. Entahlah, mungkin ini hanya pembenaran saya
saja atau apa. Tapi, orang-orang positivis memang tidak akan pernah menyentuh ranah kritis seperti yang kami lakukan. Begitu juga orang kritis akan mual mendengar pertanyaan kaum Positivis yang terkesan dangkal......!!!
Untung, saya masih diselamatkan oleh kuliah seorang Dosen yang menganut madzhab Kritis.
Jadi, perasaan tidak adil itu sedikit dapat berkurang. Ya jelas saya merasa tidak adil, lha wong saya ini baca buku tebal-tebal, banyak ilmu yang masuk ke memori saya, kok
dimentahkan begitu saja oleh pertanyaan teknis macam apa itu kuesioner, variabel, dsb.....
Hehehe, ya gini ini orang narsis, jadi jangan ketawa baca tulisan ini. Jangan menganggap ini juga
omong kosong seperti yang biasa dibilang orang-orang.........
Duengg!!! Semua memori dalam otak saya panggil lagi, saya coba keluarkan, tapi tetap tidak saya temukan jawaban dari pertanyaan dosen tadi. Wah, wah, ada yang tidak beres....!!!
Well, sejak awal saya kuliah memang saya selalu bersentuhan dengan orang-orang yang pikirannya sudah kacau, selalu jauh ke depan. Entahlah, mungkin ini hanya pembenaran saya
saja atau apa. Tapi, orang-orang positivis memang tidak akan pernah menyentuh ranah kritis seperti yang kami lakukan. Begitu juga orang kritis akan mual mendengar pertanyaan kaum Positivis yang terkesan dangkal......!!!
Untung, saya masih diselamatkan oleh kuliah seorang Dosen yang menganut madzhab Kritis.
Jadi, perasaan tidak adil itu sedikit dapat berkurang. Ya jelas saya merasa tidak adil, lha wong saya ini baca buku tebal-tebal, banyak ilmu yang masuk ke memori saya, kok
dimentahkan begitu saja oleh pertanyaan teknis macam apa itu kuesioner, variabel, dsb.....
Hehehe, ya gini ini orang narsis, jadi jangan ketawa baca tulisan ini. Jangan menganggap ini juga
omong kosong seperti yang biasa dibilang orang-orang.........
Tentang Realitas yang Palsu (perspektif semiotika Saussurean)
Malam ini, ingin sekali menulis, tapi gak ada gambaran yang terbayang di kepalaku. Yah, anggap saja ini ngobrol-ngobrol ringan. Setengah gak nyangka juga sih, berawal dari bahasa (kek yang dibilang salah seorang kawan di multiply ini juga
) ternyata terus merambat ke seluruh sendi kehidupan sosial. Konsep penanda-petanda ternyata sangat rapuh, karena ketidakstabilan makna yang dihadirkannya.
Kita anggap saja begini, Pemerintah membuat pengumuman tentang kenaikan harga BBM. Dua kemungkinan bahasa yang akan digunakan adalah, "Harga BBM harus disesuaikan, subsidi tetap ada namun berkurang". Kemungkinan satunya adalah, "Pemerintah harus menaikkan harga minyak, subsidi akan dicabut." Kalimat kedua mengandung kemungkinan chaos yang lebih besar dari yang pertama. Kemungkinan chaos ini selalu muncul karena rawannya pemaknaan terhadap kalimat yang hampir mirip. Namun, lagi-lagi kita dijejali pertanyaan, makna yang mana?
Siapa yang berhak atas pemaknaan? Ada di tangan siapa monopoli pemaknaan itu? Lebih jauh lagi, sejauh mana bahasa mencerminkan realitas? Atau tidak pernah ada Realitas (dengan R besar) yang benar-benar dimunculkan oleh bahasa? Jangan-jangan, bahasa hanya mencerminkan seperempat, setengah, sepertiga atau bahkan sama sekali tidak mencerminkan realitas? Seperti yang dibilang Umberto Eco, Semiotika adalah ilmu tentang berbohong (Yasraf Amir Piliang, Hipersemiotika: Jalasutra).
Bahasa adalah silang sengkarut tanda. Foucault bilang, bahasa adalah relasi tanda yang tak pernah berkesudahan, senantiasa dibentuk oleh epistema zamannya. Karena itu, pemaknaannya bersifat arbitrer, yang terus menerus ditekan oleh kuasa pengetahuan yang sedang berlaku. Derrida bilang, tidak pernah ada yang berhak memberi pemaknaan tunggal atas bahasa atau teks. Deleuze bilang, skizofrenia adalah gejala putusnya hubungan rantai penanda dan petanda, hingga menimbulkan kesimpangsiuran makna (Yasraf Amir Piliang, Hipersemiotika: Jalasutra).
Kita terlalu banyak dijejali ketidakpercayaan. Terlalu banyak carut marut di sekitar kita. Yang mana yang bisa kita percayai. Ini pesimis, tapi beginilah keadaannya. Kita tentu tidak ingin orang lain memaksakan pada kita kehendak dan pemahaman mereka terhadap dunia ini, bukan?
Disinilah kemudian timbul kesinisan begawan-begawan posmo terhadap sistem tanda, dan relasi-relasi kuasa pengetahuan. Akibatnya, kita akan sering mendengar tentang, "Matinya Tanda", "Matinya Subjek", "Matinya Teks", dan berbagai kematian lain. Bagaimana modernitas menjelaskan ini? Apakah Habermas juga menyentuh wilayah relasi tanda dan pemaknaan ini?
Diskusinya akan berlanjut lagi, nanti atau besok
. Salam
) ternyata terus merambat ke seluruh sendi kehidupan sosial. Konsep penanda-petanda ternyata sangat rapuh, karena ketidakstabilan makna yang dihadirkannya.Kita anggap saja begini, Pemerintah membuat pengumuman tentang kenaikan harga BBM. Dua kemungkinan bahasa yang akan digunakan adalah, "Harga BBM harus disesuaikan, subsidi tetap ada namun berkurang". Kemungkinan satunya adalah, "Pemerintah harus menaikkan harga minyak, subsidi akan dicabut." Kalimat kedua mengandung kemungkinan chaos yang lebih besar dari yang pertama. Kemungkinan chaos ini selalu muncul karena rawannya pemaknaan terhadap kalimat yang hampir mirip. Namun, lagi-lagi kita dijejali pertanyaan, makna yang mana?
Siapa yang berhak atas pemaknaan? Ada di tangan siapa monopoli pemaknaan itu? Lebih jauh lagi, sejauh mana bahasa mencerminkan realitas? Atau tidak pernah ada Realitas (dengan R besar) yang benar-benar dimunculkan oleh bahasa? Jangan-jangan, bahasa hanya mencerminkan seperempat, setengah, sepertiga atau bahkan sama sekali tidak mencerminkan realitas? Seperti yang dibilang Umberto Eco, Semiotika adalah ilmu tentang berbohong (Yasraf Amir Piliang, Hipersemiotika: Jalasutra).
Bahasa adalah silang sengkarut tanda. Foucault bilang, bahasa adalah relasi tanda yang tak pernah berkesudahan, senantiasa dibentuk oleh epistema zamannya. Karena itu, pemaknaannya bersifat arbitrer, yang terus menerus ditekan oleh kuasa pengetahuan yang sedang berlaku. Derrida bilang, tidak pernah ada yang berhak memberi pemaknaan tunggal atas bahasa atau teks. Deleuze bilang, skizofrenia adalah gejala putusnya hubungan rantai penanda dan petanda, hingga menimbulkan kesimpangsiuran makna (Yasraf Amir Piliang, Hipersemiotika: Jalasutra).
Kita terlalu banyak dijejali ketidakpercayaan. Terlalu banyak carut marut di sekitar kita. Yang mana yang bisa kita percayai. Ini pesimis, tapi beginilah keadaannya. Kita tentu tidak ingin orang lain memaksakan pada kita kehendak dan pemahaman mereka terhadap dunia ini, bukan?
Disinilah kemudian timbul kesinisan begawan-begawan posmo terhadap sistem tanda, dan relasi-relasi kuasa pengetahuan. Akibatnya, kita akan sering mendengar tentang, "Matinya Tanda", "Matinya Subjek", "Matinya Teks", dan berbagai kematian lain. Bagaimana modernitas menjelaskan ini? Apakah Habermas juga menyentuh wilayah relasi tanda dan pemaknaan ini?
Diskusinya akan berlanjut lagi, nanti atau besok
. Salam
Aiki Kenkyukai no Kokoro
Aiki ada di dalam hati, keseimbangan Ki ada di dalam hati. Kalimat ini yang terlontar dari mulut seorang sempai beberapa waktu yang lalu. Saat kepepet gak bisa lakukan waza, dan uke gak jatuh-jatuh, kadang-kadang dongkol juga. Kita memang selalu mencoba untuk mengandalkan tenaga untuk berkelahi atau melindungi diri kita sendiri.
Padahal, kalo kita sejenak merenung, dengan hati dan jiwa yang tenang, kemenangan sesungguhnya tak perlu dicari. Ia adalah bagian dari diri kita bila keselarasan dan harmoni telah tercapai. Kita tidak perlu mencari kerasnya suara uke saat jatuh ke atas matras, atau uke yang mengaduh-aduh kesakitan saat kita melakukan irimi nage atau shomen uchi kote gaeshi. Kita hanya perlu mencari ketenangan batin saat melakukan waza, maka harmoni akan lebih terasa dekat.
Akhirnya akan sedikit terjawab kenapa kita harus belajar ukemi saat pertama kali berlatih
aikido. Tidak ada orang yang suka jatuh, jatuh dalam segala hal. Kehidupan, keuangan,
pelajaran, cinta. Tidak ada yang memilih untuk jatuh. Tapi, tidak tiap saat kita bisa menghindar dari 'kejatuhan'. Pilihannya adalah jatuh, tetap jatuh, bangkit lagi dalam waktu yang lama. Atau jatuh, tapi cepat bangkit. Inilah harmoni. Keselarasan dengan alam.
Mungkin O'Sensei dulu juga pernah melewati tahapan ini. Hingga akhirnya beliau berkata, 'Ketika musuh sedang berusaha menjatuhkan aku, sesungguhnya ia sedang melawan alam semesta, karena aku adalah bagian dari alam semesta. Saat musuhku terpana dengan ini, saat itu jugalah aku masuk dan menjatuhkannya'. Seperti di masa tuanya setelah mengalahkan seorang jagoan Judo, O'Sensei keluar dari dojonya, dan merenung di taman. Saat itulah beliau merasa cahaya telah jatuh dari langit, menimpa dirinya, 'Aku telah mencapai pencerahan'.
Inilah yang kita cari, bukan tentang bagaimana mengalahkan musuh, atau menang dalam pertandingan. Namun, bagaimana membersihkan hati kita dari dendam, iri hati, culas, licik, dan curang. Pada tahap inilah, budo dapat dipahami sebagai Jalan Pedang yang tidak menginginkan pertumpahan darah dan perkelahian hewani. Aikido tak pernah bisa kejam, apalagi membunuh.
Onegaishimasu....!!!
Padahal, kalo kita sejenak merenung, dengan hati dan jiwa yang tenang, kemenangan sesungguhnya tak perlu dicari. Ia adalah bagian dari diri kita bila keselarasan dan harmoni telah tercapai. Kita tidak perlu mencari kerasnya suara uke saat jatuh ke atas matras, atau uke yang mengaduh-aduh kesakitan saat kita melakukan irimi nage atau shomen uchi kote gaeshi. Kita hanya perlu mencari ketenangan batin saat melakukan waza, maka harmoni akan lebih terasa dekat.
Akhirnya akan sedikit terjawab kenapa kita harus belajar ukemi saat pertama kali berlatih
aikido. Tidak ada orang yang suka jatuh, jatuh dalam segala hal. Kehidupan, keuangan,
pelajaran, cinta. Tidak ada yang memilih untuk jatuh. Tapi, tidak tiap saat kita bisa menghindar dari 'kejatuhan'. Pilihannya adalah jatuh, tetap jatuh, bangkit lagi dalam waktu yang lama. Atau jatuh, tapi cepat bangkit. Inilah harmoni. Keselarasan dengan alam.
Mungkin O'Sensei dulu juga pernah melewati tahapan ini. Hingga akhirnya beliau berkata, 'Ketika musuh sedang berusaha menjatuhkan aku, sesungguhnya ia sedang melawan alam semesta, karena aku adalah bagian dari alam semesta. Saat musuhku terpana dengan ini, saat itu jugalah aku masuk dan menjatuhkannya'. Seperti di masa tuanya setelah mengalahkan seorang jagoan Judo, O'Sensei keluar dari dojonya, dan merenung di taman. Saat itulah beliau merasa cahaya telah jatuh dari langit, menimpa dirinya, 'Aku telah mencapai pencerahan'.
Inilah yang kita cari, bukan tentang bagaimana mengalahkan musuh, atau menang dalam pertandingan. Namun, bagaimana membersihkan hati kita dari dendam, iri hati, culas, licik, dan curang. Pada tahap inilah, budo dapat dipahami sebagai Jalan Pedang yang tidak menginginkan pertumpahan darah dan perkelahian hewani. Aikido tak pernah bisa kejam, apalagi membunuh.
Onegaishimasu....!!!
Nalar yang kemana-mana
Modernitas yang compang camping dimana mana itu kemudian mengundang banyak sekali reaksi. Menurut Donny Gahral Adian, Modernitas berdiri di atas tiga ponndasi, satu ekonomi, dua filsafat. Pondasi-pondasi modernitas itu adalah, Kapitalisme, Humanitas, dan Rasionalitas. Modernitas banyak dibilang sebagai anak kandung Pencerahan, karena tiga pondasinya itu. Sekaligus sebagai kontradiksi yang ada dalam dirinya sendiri.
Kontradiktif, karena angan-angan proyek Pencerahan adalah kebebasan dari rasa takut, kebebasan dari belenggu-belenggu mitos. Namun, pada prakteknya, modernitas dengan klaim rasionya justru berganti topeng menjadi mitos baru yang melantik manusia-manusia menjadi hamba-hamba teknologi.
Bukan teknologi yang menghamba pada manusia, bukan manusia yang mengatur produk, sebaliknya, produk dan citra justru mengacak-acak kesadaran manusia atas klaim Rasionalitas dan tuntutan sosial. Well, ngomong saja, orang gak akan pede kalo gak ngajak ceweknya makan di KFC atau McD, padahal notabene toh yang dimakan nasi juga. Orang akan lebih memilih memakai krim pemutih daripada tidak. Akhirnya, menjalar ke eksploitasi fisik.
Tubuh tidak lagi dipahami sebagai sesuatu yang terberi. Ia diterjemahkan dengan sangat cantik menjadi komoditas
yang dapat diperjualbelikan, dan tidak malu-maluin untuk dibawa ke pergaulan sosial.
Akhirnya, proyek Pencerahan mandeg di tengah jalan. Bukan humanisasi yang terjadi, justru sebaliknya. Individu bukan lagi menjadi subjek yang otonom, independen, bebas memilih, dan sebagainya. Ia justru dikontrol oleh produk-produk pasar, citra-citra yang diciptakan oleh kuasa, hasrat menjadi kian tak terbendung. Tinggal menunggu 'utusan dari langit' untuk dapat mengembalikan proyek Pencerahan ke atas relnya......
ah, anggap saja saya melantur. Kita tidak butuh eksistensi.
pada sebuah senja yang mendung
Kontradiktif, karena angan-angan proyek Pencerahan adalah kebebasan dari rasa takut, kebebasan dari belenggu-belenggu mitos. Namun, pada prakteknya, modernitas dengan klaim rasionya justru berganti topeng menjadi mitos baru yang melantik manusia-manusia menjadi hamba-hamba teknologi.
Bukan teknologi yang menghamba pada manusia, bukan manusia yang mengatur produk, sebaliknya, produk dan citra justru mengacak-acak kesadaran manusia atas klaim Rasionalitas dan tuntutan sosial. Well, ngomong saja, orang gak akan pede kalo gak ngajak ceweknya makan di KFC atau McD, padahal notabene toh yang dimakan nasi juga. Orang akan lebih memilih memakai krim pemutih daripada tidak. Akhirnya, menjalar ke eksploitasi fisik.
Tubuh tidak lagi dipahami sebagai sesuatu yang terberi. Ia diterjemahkan dengan sangat cantik menjadi komoditas
yang dapat diperjualbelikan, dan tidak malu-maluin untuk dibawa ke pergaulan sosial.
Akhirnya, proyek Pencerahan mandeg di tengah jalan. Bukan humanisasi yang terjadi, justru sebaliknya. Individu bukan lagi menjadi subjek yang otonom, independen, bebas memilih, dan sebagainya. Ia justru dikontrol oleh produk-produk pasar, citra-citra yang diciptakan oleh kuasa, hasrat menjadi kian tak terbendung. Tinggal menunggu 'utusan dari langit' untuk dapat mengembalikan proyek Pencerahan ke atas relnya......
ah, anggap saja saya melantur. Kita tidak butuh eksistensi.
pada sebuah senja yang mendung
Iseng....
Sebutir embun tergelincir diteras rumah. Terpapah oleh dahan dan ranting pepohonan yang mulai meranggas. Musim kemarau ini, menjadikan udara terasa sangat kering, membuat rongga nafas tersendak debu yang kian hari kian mengerak. Rumput-rumput tak lagi menghijau, meremukkan tubuhnya agar tak mati disuatu hari. Sementara burung-burung terpaku kumal dengan bulu-bulu yang lusuh. Kicau mereka terdengar begitu parau tertahan.
Sebuah meja makan ditengah ruangan terlihat sepi. Tak ada lagi riuh rendah suara anak-anak yang bercanda sambil berkejaran berebut makanan. Senyum manis yang biasanya melekat disisa-sisa ingatan, kini mulai lapuk terbawa angina musim yang terus berubah.
Ini adalah pagi yang gersang. Tak nampak lagi kepulan asap berkelok dari cangkir kopi panas diteras rumah karena tertimpa sinar matahari. Apalagi senyum seorang gadis cantik yang selalu menyuguhkan keluguan kasihnya dimeja-meja pengharapan. Hanya gurat kenangan yang sesekali masih terlihat membekas didinding-dinding rumah yang mulai retak. Terbebani oleh kesaksian yang mungkin terlalu menyakitkan. Hingga tembok-tembok retak itu berusaha tetap berdiri, meski diam, dan membisu batu.
Berlanjut.......
Kabarnya
Marhaenku terlanjur mati.................
Dan aku belum juga mampu berdiri...............
Untuk kawan-kawan yang selalu berdiri di ujung waktu
Sebuah meja makan ditengah ruangan terlihat sepi. Tak ada lagi riuh rendah suara anak-anak yang bercanda sambil berkejaran berebut makanan. Senyum manis yang biasanya melekat disisa-sisa ingatan, kini mulai lapuk terbawa angina musim yang terus berubah.
Ini adalah pagi yang gersang. Tak nampak lagi kepulan asap berkelok dari cangkir kopi panas diteras rumah karena tertimpa sinar matahari. Apalagi senyum seorang gadis cantik yang selalu menyuguhkan keluguan kasihnya dimeja-meja pengharapan. Hanya gurat kenangan yang sesekali masih terlihat membekas didinding-dinding rumah yang mulai retak. Terbebani oleh kesaksian yang mungkin terlalu menyakitkan. Hingga tembok-tembok retak itu berusaha tetap berdiri, meski diam, dan membisu batu.
Berlanjut.......
Kabarnya
Marhaenku terlanjur mati.................
Dan aku belum juga mampu berdiri...............
Untuk kawan-kawan yang selalu berdiri di ujung waktu
Langganan:
Postingan (Atom)
