Minggu, 01 Februari 2009

Perbincangan kala sore dengan Jose Luis Borges (1899-1986)

Tulisan ini adalah rekaman diskusi rutin yang kami lakukan tiap Jumat sore di lorong sebuah institusi yang bernama FISIP Universitas Airlangga, yang kian hari kian dipenuhi manekin-manekin berjalan yang bahkan tak pernah mempertanyakan makna keberadaan diri mereka sendiri..................ENJOY!!!

'Saya tidak punya muatan apa-apa. Saya bukanlah seorang pemikir ataupun moralis. Tapi hanya seorang sastrawan yang menyalin kebingungannya sendiri, dan berusaha memindahkan sistem kebingungan yang dengan hormat kita sebut filsafat ke dalam bentuk sastra' (J. Luis Borges)

Untuk kesekian kalinya aku mendapatkan kesempatan berbincang dengan Borges (1899-1986). Kali ini aku tidak sendiri, beberapa teman dengan kesukaan akan fisika, sastra, filsafat dan kedokteran ikut merayakan pesta kecil keajaiban tubuh. Tubuh yang benar-benar telah mengatasi waktu. Aku dan juga manusia-manusia lain mungkin saja adalah hasil dari suatu proses kebetulan. Tubuh yang terperangkap dalam perpustakan. Sebagai pembuka, teman dari kedokteran yang telah membedah tubuh untuk pertama kalinya bertanya tentang Tuhan. 'Tuhan ada di suatu huruf pada salah satu halaman buku diantara berjilid-jilid buku yang memenuhi rak koleksimu', jawab seorang kawan yang pustakawan. Selanjutnya tulisan ini kubuat dalam gaya dialog, yang aku kutip dari sekian banyak pembicaraan kami sore itu di lorong FISIP, sambil ditemani Teh Botol yang dibeli dari Cak Sur, tukang parkir Fakultas Farmasi. Meski ada kesamaan di antara kami, tapi siapapun layak untuk mendapatkan fakta layaknya koran dan transkrip penelitian, bukan hanya sebagai sistem kebingungan yang kucoba buat teratur.

MH : Bagaimana sampeyan memandang kehidupan?

Setiap manusia terjebak dalam tubuh diantara pengetahuan yang tak terbatas. Dimana ide hadir untuk mengungkapnya. Sistem filsafat yang berlimpah macamnya memiliki kesamaan yaitu karakter yang enigmatis. Semuanya menawarkan solusi dari permasalahan. Tapi yang lebih penting dari itu semua adalah menemukan permasalahannya. Orang-orang dari zamanmu memberlakukan kategorial yang ketat untuk pengetahuan. Filsafat yang sangat ambisius untuk membuat penjelasan yang sistematis, saya rayakan melalui puisi. Puisi menegaskan pada diri saya bahwa realitas hanyalah metafor yang sedang menyamar. Dalam hal ini, gagasan idealisme dari Barkeley cukup mempengaruhi saya.

MH : Berarti sampeyan percaya dengan Filsafat

Saya kehilangan penglihatan total ketika berumur 56 tahun. Tapi jika saya berpikir tentang masa lalu saya, karena hanya itu yang bisa saya lakukan dalam kesunyian. Aku tentu saja berpikir tentang teman-temanku dan juga cinta. Tapi paling banyak aku berpikir tentang buku-buku yang telah kubaca. Ingatanku penuh dengan kutipan-kutipan dari berbagai bahasa. Dan berbicara tentang filsafat bahwasanya kita tidak diperkaya dengan setiap solusi yang ditawarkan. Setiap solusi memberi saya keraguan, mereka sangat arbitrer, filsafat hanya memperlihatkan pada kita bahwa dunia lebih misterius daripada yang kita pikirkan. Yang ditawarkan filsafat sebenarnya bukanlah sebuah sistem. Seperti seseorang menyatakan hal yang konkrit dan transparan. Itu adalah kumpulan keraguan. Dan belajar tentang keragu-raguan ini adalah sebuah kesenangan.

IC : Sampeyan pernah bilang bahwa sampeyan menerima sekaligus menolak apapun yang kehidupan tawarkan tapi bukankah sampeyan punya kehendak dan mengkonstruksinya dalam setiap tindakan....

Saya tidak percaya dengan kehendak bebas. Dalam hal ini berarti saya tidak terkonstruksi olehnya. Sekarang, jika kamu yakin dengan kehendak bebas, kehendak bebas adalah semacam ilusi yang dibutuhkan. Tapi, dengan semangat menghormati masa laluku, saya menerima semuanya sebagai hal yang kondisional di atas sejarah dunia, atas seluruh proses kosmis yang mendahuluinya. Namun jika saat ini saya mengatakan bahwa saya tidak bebas, saya telah menyerahkan sepenuhnya. Ini dua tangan saya, saya bilang, saya bisa memilih tangan mana yang akan saya jatuhkan di meja, dan saat itu saya yakin, tapi sekarang setelah saya memilih menjatuhkan tangan kiri saya, bagaimana saya bisa menerima bahwa itu telah ditentukan dan membiarkan jatuhnya yang kanan akan menjadi sesuatu yang tidak mungkin.
Tapi berbicara tentang masa lalu sebagai hal yang kontras, kamu bisa berpikir bahwa jika aku berlaku buruk, saya tidak punya alasan untuk menyesalinya. Semuanya telah ditentukan. Mungkin kamu yang masih muda merasakan kehendak bebas sebagai sebuah kesenangan dan kemudahan, tapi bagi saya sangat sulit untuk mempercayainya.

LT : Lepas dari bahasan filsafat, meskipun sampeyan menyebut filsafat sebagai cabang dari sastra fantasi. Dalam klasifikasi sastra karya sampeyan ditempatkan dalam realisme magis, hal apa yang patut sampeyan katakan tentang itu?

Saya berterima kasih sekaligus membenci setiap orang yang mengkategorikan karya saya. Namun dalam hal ini saya masih mengingat tiap tema yang saya hadirkan seperti labirin dan cermin, gagasan labirin menggambarkan setiap kebingungan dan cermin membangkitkan 'Aku' yang lain. dan mungkin realisme magis yang coba menggabungkan faktor eksternal dan internal manusia dalam hal ini kenyataan fisik dan psikologis. Secara teknis, mungkin realisme magis mencoba menghadirkan seluruh aspek seperti pikiran, emosi, imajinasi, serta mitos-mitos budaya. Teks realisme magis mungkin dianggap sebagai sesuatu yang tidak nyata tapi hanya saja bagi saya setiap karya tidak pernah selesai dan anggapan bahwa itu telah selesai sebagai sesuatu yang menjengkelkan.


Akhir pembicaraan kami diakhiri dengan perbincangan tentang wanita dan cinta. Dan tak mungkin kutuliskan perasaan ketika aku mendengar kesunyiannya menanti di usia tua. Borges pergi dan dia meninggalkan sisa minuman yang kemudian kuminum. Dan matahari makin menjadi merah dan semakin ke Barat............


Tidak ada komentar:

Posting Komentar