(Friedrich Nietzsche)
Sekilas, kalimat diatas seperti benar-benar mengukuhkan Nietzsche sebagai atheis sejati yang sedang melakukan upaya meng-atheiskan kita secara aktif. Guncangan dari pernyataan Nietzsche ini masih terasa hingga sekarang, dan sempat membuat kalangan Yudeo-Kristiani kebakaran jenggot. Sebenarnya, kenapa Nietzsce harus membunuh Tuhan? Kenapa dia harus mendoakan Tuhan agar beristirahat dalam kedamaiannya yang abadi?
Sejenak, mari kita tengok. Apakah Nietzsche benar-benar berpikir untuk membunuh Tuhan dalam pengertian yang sebenarnya? Apakah Nietzsche tidak mengenal agama yang mengajarkan bahwa Tuhan adalah Zat Yang Maha Kuasa? Padahal, Nietzsche dibesarkan dalam tradisi Kristiani yang kental, kendatipun ia kemudian memutuskan berhenti belajar Teologi setelah mempelajarinya selama satu semester. Nietzsche tentu tidak sebodoh itu. Logika dan cara berpikir Nietzsche tentu tidak sedangkal itu. Lantas, upaya apa yang sedang dilakukan Nietzsche dengan pernyataannya yang hingga kini masih menggetarkan peradaban manusia itu?
Nietzsche sebenarnya sedang melakukan upaya oto-kritik (sedikit sekali di antara kita yang mau melakukannya, karena sedikit sekali di antara kita yang mau dikritik) terhadap dirinya sendiri dan tradisi Kristiani Barat. Tradisi yang berdalih ingin memanusiakan manusia, tapi justru melemparkan manusia kepada keterpurukannya sendiri ke dalam peradaban. Tuhan yang dikenal manusia adalah Tuhan yang dapat dijangkau oleh rasio, akibatnya Dia dikenal bukan sebagaimana Dia adanya, tapi 'Dia' yang telah direduksi oleh nalar.
Nietzsche menyalahkan moralitas Kristiani sebagai bentuk ideal asketisme. Dalam tradisi agama Islam, manusia memiliki kedudukannya yang paling khusus sebagai khalifatu 'fil ardhi (khalifah di Bumi). Kemudian, bentuk-bentuk asketisme melanggar kodrat yang telah digariskan kepada manusia ini. Ia melemparkan manusia kepada jurang yang paling dalam dari bentuk kelemahan, rasa bersalah, dan rasa takut. Ideal asketisme adalah idealisasi, sublimasi rasa sakit, benci, dendam, kelemahan, dan ketakberdayaan menjadi suatu yang bermakna supaya lebih bisa ditahan.
Konsep Nietzsche tentang kehendak untuk berkuasa berkaitan erat dengan konsep filsafat hidup (lebenphilosophie) tentang hidup. Tradisi filsafat hidup memandang hidup bukan semata-mata proses biologis, melainkan arus yang mengalir, meretas, dan tidak tunduk pada apa pun yang mematikan gerak hidup (1). Nietzsche memandang hidup sebagai insting atas pertumbuhan, kekekalan, dan pertambahan kuasa. Pendeknya, hidup menurut Nietzsche adalah kehendak untuk berkuasa! Dan tradisi asketisme telah mematikan insting dasar manusia ini, dan melemparkannya pada keadaan serba salah, ketakutan, dan tunduk pada otoritas yang memaksa di luar dirinya.
Tuhan yang semacam itu, bagi Nietzsche, bukanlah Tuhan yang Adil. Bukan Tuhan yang benar-benar Maha. Ia adalah 'tuhan' yang salah ditafsirkan mengikuti nalar rasio. Tuhan yang dikenal selama ini bukanlah Tuhan yang sebenarnya. Karena bagi Nietzsche sendiri, tidak ada fakta, yang ada hanyalah tafsir. Tuhan seharusnya benar-benar tidak dapat dijangkau oleh alam pikir manusia. Selama Tuhan masih dapat dijelaskan, berarti dia bukan Tuhan. Tuhan yang semacam ini harus dibunuh!
Kemudian, setelah kematian Tuhan, apa lagi? Nietzsche tidak memberikan jawaban yang ideal-final atas pertanyaan ini. Karena pencarian tentang Tuhan kemudian tidak pernah terjawab dengan tuntas, maka adalah tugas kita untuk terus menerus mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Pada titik inilah, konsep Nietzsche tentang keberpulangan abadi menemukan perannya. Setelah konsepsi-konsepsi tentang Tuhan mulai terbangun, maka tugas kita kemudian adalah menghancurkannya untuk kemudian dibangun, dan dihancurkan lagi, demikian seterusnya. Sehingga, tidak akan ada lagi 'tuhan-tuhan' palsu yang hadir dalam setiap individu, dan akibatnya membuat peradaban dipenuhi oleh manusia-manusia dekaden. Terakhir, saya akan menutup tulisan ini dengan kutipan dari salah satu aforisme Nietzsche yang berjudul 'Orang Gila', :
Daftar Pustaka:
1. Adian, Donny Gahral, Percik Pemikiran Kontemporer,
2. BASIS, edisi Mei 2004, Orang Suci dari Jerman

Tidak ada komentar:
Posting Komentar