Modernitas yang compang camping dimana mana itu kemudian mengundang banyak sekali reaksi. Menurut Donny Gahral Adian, Modernitas berdiri di atas tiga ponndasi, satu ekonomi, dua filsafat. Pondasi-pondasi modernitas itu adalah, Kapitalisme, Humanitas, dan Rasionalitas. Modernitas banyak dibilang sebagai anak kandung Pencerahan, karena tiga pondasinya itu. Sekaligus sebagai kontradiksi yang ada dalam dirinya sendiri.
Kontradiktif, karena angan-angan proyek Pencerahan adalah kebebasan dari rasa takut, kebebasan dari belenggu-belenggu mitos. Namun, pada prakteknya, modernitas dengan klaim rasionya justru berganti topeng menjadi mitos baru yang melantik manusia-manusia menjadi hamba-hamba teknologi.
Bukan teknologi yang menghamba pada manusia, bukan manusia yang mengatur produk, sebaliknya, produk dan citra justru mengacak-acak kesadaran manusia atas klaim Rasionalitas dan tuntutan sosial. Well, ngomong saja, orang gak akan pede kalo gak ngajak ceweknya makan di KFC atau McD, padahal notabene toh yang dimakan nasi juga. Orang akan lebih memilih memakai krim pemutih daripada tidak. Akhirnya, menjalar ke eksploitasi fisik.
Tubuh tidak lagi dipahami sebagai sesuatu yang terberi. Ia diterjemahkan dengan sangat cantik menjadi komoditas
yang dapat diperjualbelikan, dan tidak malu-maluin untuk dibawa ke pergaulan sosial.
Akhirnya, proyek Pencerahan mandeg di tengah jalan. Bukan humanisasi yang terjadi, justru sebaliknya. Individu bukan lagi menjadi subjek yang otonom, independen, bebas memilih, dan sebagainya. Ia justru dikontrol oleh produk-produk pasar, citra-citra yang diciptakan oleh kuasa, hasrat menjadi kian tak terbendung. Tinggal menunggu 'utusan dari langit' untuk dapat mengembalikan proyek Pencerahan ke atas relnya......
ah, anggap saja saya melantur. Kita tidak butuh eksistensi.
pada sebuah senja yang mendung
Minggu, 01 Februari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar